Osherow menulis: “Akhirnya, Jim Jones dan Alasan Utama-nya menuntut pengikutnya untuk menyerahkan nyawa mereka.”

Pemimpin aliran sesat jadi begitu terobsesi dengan ketaatan sehingga dia menuntut pengikutnya membuktikan kesetiaan dan kecintaan mereka padanya dengan cara mengorbankan apapun, termasuk nyawa mereka sendiri. Alasannya hanyalah dikarang-karang saja. Qur’an juga menawarkan upah besar bagi yang mati syahid dan mengajak Muslim untuk mengorbankan nyawa mereka demi Muhammad.

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu h idup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. [300]
[300] Qur’an, Sura 3, Verse 169

Ada pula ahadis yang menerangkan upah yang akan diterima mereka yang mati syahid.

Sang Nabi berkata, “Surga punya 100 tingkat yang disediakan Allâh bagi Mujahidin (pejuang Muslim) yang berperang di JalanNya.” [301]
[301] Bukhari Volume 4, Book 52, Number 48

Sang Nabi berkata, “Tiada seorang pun yang masuk ke Surga yang mau kembali ke dunia bahkan jika dia mendapatkan apapun di dunia, kecuali seorang Mujahid yang ingin kembali ke dunia agar dia bisa mati syahid sepuluh kali lagi karena kehormatan yang diterimanya (dari Allâh). [302]
[302] Bukhari Volume 4, Book 52, Number 72

Nabi kami mengatakan pada kami tentang pesan Tuhan kami bahwa “Siapapun diantara kami yang mati syahid akan masuk surga.” Omar bertanya pada sang Nabi, “Bukankah orang2 kita yang mati syahid akan pergi ke surga dan mereka (kaum pagan) akan pergi ke api (neraka)” Sang Nabi berkata, “Ya.” [303]
[303] Bukhari Volume 4, Book 52, Number 72

Osherow menelaah: “Apa yang membuat orang2 tega membunuh anak2 mereka dan diri mereka sendiri? Dari pandangan luar, hal ini sukar dipercaya. Sama halnya, jika dilihat sekilas, sukar untuk dipercaya mengapa begitu banyak orang rela menghabiskan waktu, semua uang mereka dan bahkan menyerahkan pengurusan anak2 mereka kepada Kenisah Rakyat. Jones memanfaatkan proses pelogisan yang membuat orang membenarkan pengabdian mereka dengan menaikkan taraf ketaatan mereka sambil mengurangi resiko jika tidak taat.”

Hal ini pun dilakukan Muhammad. Dia meyakinkan pengikutnya bahwa dialah alasan yang paling utama dan pengikutnya diciptakan hanya untuk percaya padanya dan menyembah tuhan yang hanya bicara melalui dirinya. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Q.51:56). Menurut sebuah hadis qudsi (dipercaya benar2 sahih) tujuan hidup adalah untuk mengenal Allâh dan menyembahnya dan tentunya hal ini hanya bisa terjadi melalui rasulnya yakni Muhammad. Allâh menjanjikan upah besar bagi mereka yang bersedia mengorbankan apapun bagi dirinya dan mengancam mereka yang tidak percaya dengan siksaan abadi. Muslim harus siap berperang bahkan melawan ayah2 dan saudara2 mereka sendiri, siap dibunuh dan membunuh. Sama seperti aliran sesat lainnya, para Muslim pun melogiskan dan menghalalkan semua tindakan kriminal, termasuk menculik orang2 tak bersalah dan memancung mereka, membom penduduk sipil dan membunuh ribuan orang. Dalam pikiran mereka, tujuan mereka sangatlah tinggi sehingga hal lain tidak berarti.

Hidup orang beriman itu berat karena penuh pertentangan bathin dan harus menjalankan berbagai aturan ibadah agama tiada arti yang harus dilakukannya tanpa banyak tanya. Dia pelan2 harus tunduk dalam kehidupan ini. Osherow menulis: “Keterlibatan seorang anggota dalam Kenisah Rakyat tidak dimulai di Jonestown, tapi jauh lebih awal daripada itu, dekat dengan rumah mereka pribadi, dan tidak sedramatis di Jonestown. Awalnya, anggota2 itu mendatangi pertemuan2 secara sukarela dan menyempatkan diri beberapa jam setiap minggu bekerja di gereja Jim Jones. Meskipun anggota2 lama akan mengajak anggota baru untuk bergabung, tapi mereka bisa bebas memilih untuk tetap tinggal atau pergi. Jika mau bergabung, maka anggota itu akan lebih bertekad setia pada Kenisah Rakyat. Sedikit2, Jones menambah perintahnya pada setiap anggota. Setelah lama jadi anggota, barulah Jones mulai meningkatkan sikapnya yang menindas dan tuntutan2 dalam pesan2nya. Sedikit demi sedikit, pilihan lain bagi anggota dikurangi. Langkah demi langkah, orang itu tergerak untuk melogiskan pengabdiannya dan membenarkan perbuatannya.”

Mereka yang jadi mualaf (Muslim baru) juga melaporkan hal yang sama. Perubahan dalam diri mereka berlangsung perlahan. Begitu mereka mulai lebih terlibat, tingkat tuntutan pelan2 meningkat. Para wanita diberitahu bahwa menutupi rambut mereka bukanlah kewajiban, tapi merupakan hal yang suci untuk dilakukan. Lalu anggota baru disuruh menahan diri agar makan makanan halal, melakukan sholat, puasa, berzakat dan pelan2 mereka ditunjukkan nilai2 luhur dan iming2 hadiah jihad. Jihad ini harus dilakukan oleh setiap Muslim. Karena para mualaf biasanya penuh semangat untuk diterima dalam kelompok Muslim, maka mereka mau saja berbuat apapun yang diperintahkan dan bahkan mencoba lebih beribadah daripada mereka yang terlahir Muslim. Ini sama dengan kata pepatah “lebih katolik daripada Paus sekalipun.”

Indoktrinasi ini begitu perlahan sehingga mualaf merasa mereka melakukan hal ini secara sukarela. Mereka akhirnya akan melakukan hal2 yang dulu mereka rasa sangat konyol. Seorang ex-Muslimah Amerika menulis padaku bahwa ketika dia pertama kali melihat sekelompok Muslimah mengenakan burqa hitam sekujur tubuh, dia tertawa dan merasa kasihan pada mereka. Akhirnya dia memeluk Islam dan mulai mengenakan burqa (neqab) yang bahkan menutupi wajahnya. Aku mengenal wanita ini di internet karena dia membuat website yang mempromosikan Islam dan menghinaku. Dia memperingatkan Muslim lain untuk tidak membaca tulisan2ku. Tentunya dia sendiri tidak melakukan anjurannya sendiri karena dia tidak tahan untuk tidak membaca tulisan2ku. Akhirnya kebenaran menerpanya dan dia meninggalkan Islam sama sekali. Dia menjelaskan padaku bagaimana dirinya tersedot dalam Islam sampai2 dia mengajak suaminya yang non-Muslim memeluk Islam dan mengambil istri baru.

Di dunia nyata, aku bertemu para Muslimah yang dicuci otaknya sedemikian parah sehingga mereka membela pernyataan Muhammad bahwa wanita itu bodoh dan lebih rendah daripada pria, sedangkan di saat yang sama, mereka yakin sekali Islam memerdekakan wanita. Iman jelas merupakan narkotik yang melumpuhkan nalar.

Alasan2 orang jadi mualaf mungkin karena mereka mengira doktri monotheisme itu menarik atau mungkin pula karena mereka ingin jadi anggota “persaudaraan” yang besar. Apapun alasannya, para mualaf itu dalam waktu singkat akan menjadi pembenci Yahudi dan lalu negara mereka sendiri (terutama mereka yang tinggal di negara non-Islam). Tak lama kemudian mereka akan membenci orangtua mereka yang non-Muslim dan menjauhkan diri dari kawan2 non-Muslim. Demi memenuhi kewajiban agama, akhirnya mereka menjadi seorang jihadis dan teroris dan dengan senang hati melakukan pengorbanan akhir yakni mati syahdir (martir).

Seorang Kanada yang jadi mualaf tapi lalu murtad dan kembali memeluk agama aslinya, menulis pengalamannya dulu sebagai Muslim:

Islam yang asli sukar dicerna bagi kafir sehingga untuk membuat banyak orang tertarik pada dakwah Islam, maka Muslim menyesuaikan prinsip2 Islam agar sesuai dengan harapan kafir yang mendengarnya. Islam moderat yang disesuaikan yang dulu membuatku tertarik dan masuk Islam harus disesuaikan lagi agar tampak aslinya. Di mesjid lokal aku selalu disalami dan dipeluk. Hal menyenangkan ini tidak kualami di rumah, terutama dari ibuku yang selalu tidak puas akan prestasiku dan ayah yang tidak peduli atas kemajuanku. Karena bujukan saudara2 Muslimku, aku ingin unggul dalam beribadah Islam; mungkin menikah dan menguasai penuh bahasa Arab dan jadi mujahidin (dalam jihad) dan mati syahid.

Begitu masuk Islam, mualaf jadi begitu mudah dibohongi dan naif, sehingga dengan menerima saja segala tingkah laku dan propaganda Islam yang tidak masuk akal yang mempengaruhi masyarakat Muslim. Kami tidak mau bergaul dengan kafir dan menolak semua yang tidak Islami. Seorang mualaf menyatakan Osama bin Laden lebih baik daripada “sejuta George Bush” dan “seribu Tony Blairs” hanya karena Osama itu Muslim. Kami dengan sombong mengaku sebagai “orang2 terbaik dari seluruh umat manusia” (3:110). Sehingga jika kejadian kekerasan terjadi dan jelas dilakukan oleh Muslim demi nama Allaah, maka kami semua merasa puas. Kami mendukung pelanggaran kemanusiaan di negara2 Muslim, bahkan jika korbannya adalah Muslim pula. Teori2 konspirasi yang menyebar di masyarakat Muslim benar2 ngawur. Tidak ada seorang Muslim pun, bahkan yang moderat sekalipun, yang mau mengakui pelaku2 Muslim 9/11. Seperti yang dikatakan rekan kelasku dari Afghanistan, “Itu pasti perbuatan orang2 Yahudi!” Jika terjadi peristiwa yang membuat orang cenderung melakukan kritik sendiri, kami bukannya melakukan kritik diri itu tapi malah menyalahkan Yahudi, kambing hitam favorit kami. Kami menyatukan diri jadi bagian ummah Islam dan sama2 mendukung agenda politik Arab Muslim, membiarkan janggut tumbuh, menyatakan kebencian pada Yahudi, sering mengucapkan kata bid’ah (mengutuk modernisme), dan melawan negara Islam. Kami dengan bangga mengaku kebenaran jihad, tapi bersikap bodoh jika seorang kafir bertanya tentang teror yang dilakukan jihadis dan lebih memilih menjawab, misalnya, “Bagaimana kau tahu itu dilakukan oleh Muslim? Mana buktinya?” Meskipun kami tidak buta terhadap videotape2 kesaksian teroris Muslim, kami memilih membutakan diri saja. Tidak semua Muslim jadi teroris, tapi kebanyakan teroris adalah Muslim. Jika orang2 Amerika dan Yahudi mati, para Muslim bersuka cita. Hal ini jelas kulihat dari diri seroang Muslimah yang baru berusia lima tahun. Para mualaf secara buta menerima saja segala intrepetasi Islam yang kolot yang diajarkan imigran Muslim. Mereka mengajarkan Islam sebagai agama yang melarang ijtihaad (diskusi bebas) guna memberangus orang2 yang berpikir kritis dan agar agama mereka tetap berkuasa.
[291]
[291] www.faithfreedom.org/Testimonials/Abdulquddus.htm

Jeanne Mills [292], anggota Kenisah Rakyat yang berhasil melepaskan diri dua tahun sebelum aliran sesat itu pindah ke Guyana, menulis pengalamannya di bukunya yang berjudul Six Years with God (Enam Tahun bersama Tuhan) (1979). Dia menulis: “Setiap kali aku menceritakan pada seseorang tentang masa enam tahunku menjadi anggota Kenisah Rakyat, aku menghadapi pertanyaan yang tidak bisa kujawab: Jika gereja itu sedemikian jelek, mengapa dong kau dan keluargamu tetap jadi anggota untuk waktu yang sangat lama?” Osherow berkata, “Beberapa pengamatan lama dari penyelidikan kejiwaan sosial tentang proses pembenaran diri dan teori penerimaan hal yang tidak disetujui (cognitive dissonance) dapat menjelaskan perbuatan yang tampaknya tidak rasional.”
[292] Lihat Aronson, E. The social animal (3rd ed.) San Francisco: W. H. Freeman and Company, 1980. AND Aronson, E. Teori disonansi kognitif: Perspektif Masa Kini. In L. Berkowitz (ed.), Advances in experimental social psychology. Vol. 4, New York: Academic Press, 1969.

John Walker Lindh dikenal sebagai “Taliban Amerika.” Dia adalah anak muda yang pergi ke Afghanistan untuk bergabung dengan Al Qaida dan melawan tentara negaranya sendiri. Dia tidak jadi teroris hanya dalam waktu semalam saja. Ketertarikan John pada Islam dimulai di usia 12 tahun. Ibunya membawanya nonton film yang disutradarai Spike Lee yang berjudul “Malcolm X.” Majalah Time mengutip perkataan ibu Lindh, “Hatinya tergerak melihat adegan orang2 segala bangsa menyembah pada Tuhan.”

Tidak ada yang peduli untuk memberitahu anak muda ini akan bahaya Islam. Sebaliknya, dia malah mendapat restu dan ijin dari orangtuanya untuk memeluk Islam, karena kedua orangtuanya juga tidak tahu apa2 tentang Islam. Majalah Time edisi 29 September, 2002 menulis: “Orangtua John senang melihat anaknya menemukan sesuatu yang menarik hatinya. Pada jaman itu orangtua2 lain yang mereka kenal bergulat dengan masalah anak2 mereka yang terlibat obat bius, ngebut, minum. Hal ini membuat mereka mengira ketertarikan anak mereka terhadap Islam bukanlah masalah apapun. Ibu John yang bernama Marilyn biasa mengantar anaknya ke mesjid untuk sembahyang Jum’at. Di petang hari, seorang Muslim akan mengantar John pulang.”

Masyarakat Amerika yang penuh toleransi juga tidak melihat apapun yang salah jika seorang anak muda Amerika memeluk Islam. Dia berjalan dengan baju Islamnya yang aneh di jalanan, dan orang2 Amerika lainnya tidak menegurnya. “Ini dianggap sebagai anak muda mencoba sesuatu yang baru dalam hidupnya, dalam diri rohaninya, dan ini tentunya bukan hal yang mengerikan atau layak dibenci,” demikian laporan majalah Time.

Bukannya menyelidiki tentang Islam yang sebenarnya, ayah John malahan membiarkan dirinya ditipu oleh “keramahan budaya Islam oleh para Muslim.” Hal ini sendiri merupakan tanda2 peringatan sifat kultis Islam. Anggota2 aliran2 sesati biasanya luar biasa “ramah” dan ramah terhadap mereka yang mendukung agama mereka. Ayah John tidak mampu melihat bahaya Islam dan malah berusaha “menghargai” agama anaknya. Suatu hari dia memberitahu anaknya, “Kukira kau tidak benar2 memeluk Islam, tapi menemukannya di dalam dirimu; kau menemukan dirimu yang Muslim.”

Orang tua John dan seluruh rakyat Amerika yang gampang percaya tidak menyadari bahwa John yang masih muda ini pelan2 mengalami cuci otak dan indoktrinasi sehingga mulai membenci negaranya sendiri. Majalah Time mengutip, guru bahasa di Yemen berkata, “Ketika Lindh datang dari Amerika, dia sudah benci Amerika.” Tulis Time: “Surat2 Lindh dari Yemen sudah menunjukkan sikapnya yang mendua tentang A.S. Di sebuah suratnya pada ibunya tanggal 23 Sept., 1998, dia menulis bahwa pemboman di kedubes2 A.S. di Afrika bulan sebelumnya merupakan serangan yang “dilakukan Pemerintah Amerika sendiri dan bukan oleh Muslim.”

Kaum non-Muslim pelan2 jadi biasa mendengar taktik Islam yang melakukan tindakan kriminal dan menyalahkan korbannya. Setiap orang sudah mendengar bualan tentang “4000 orang Yahudi tidak masuk kerja di pagi hari 9/11/2001”, yang dikarang oleh para Muslim dan teori konspirasi yang mereka ciptakan untuk menyalahkan CIA dan Mossad padahal Bin Laden sendiri dengan sombongnya menyatakan kemenangannya. Jadi John muda yang inosen itu pelan2 dibimbing untuk percaya bahwa Islam adalah SATU-SATUNYA agama sejati bagi seluruh umat manusia. Dia mempelajari dan melakukan ibadahnya dengan tulus dan penuh semangat. Dia mulai membaca dan menghafal Qur’an dan di buku catatannya dia menulis, “Kita akan melakukan jihad selama kita hidup.”

Dengan menjadi Muslim, John Walker Lindh sudah masuk gelembung sabun dunia Muhammad yang narsistik. Dia mulai menunjukkan tanda2 pemikiran Islam yang irasional dan narsistik. Dia jelas tahu siapa yang bertanggung-jawab atas serangan teroris 9/11. Akan tetapi, di satu pihak dia menyangkal ini adalah hasil karya Muslim dan di pihak lain dia bersumpah untuk berjihad selama hidupnya.

John juga mengasingkan diri dari masyarakat negaranya. Berdasarkan Qur’an Muslim memang tidak boleh berteman dengan kafir. (Q.9:23) Mereka diminta untuk memerangi yang tidak percaya pada Allâh (Q.9:29) dan membunuh mereka. (Q.9:123) Seorang Muslim tidak boleh menerima agama lain. (Q.3:85)

Tidak heran ketika John menulis pada ibunya setelah pemilu presiden A.S. tahun 2000, dia menyebut George W. Bush sebagai “presidenmu yang baru” dan menambahkan, “Aku senang dia bukan presidenku.” Tentu saja bukan! Seorang Muslim tidak boleh menerima pimpinan kafir. Dia harus menentangnya, memeranginya dan berusaha membunuhnya. (Q.25:52)

John Walker Lindh adalah korban sakitnya masyarakat Barat yang disebut sebagai kebenaran politis (political correctnes = membenarkan hal yang salah untuk mencari kedudukan yang aman). Bukankah Ronald Reagan menyebut teroris Islam di Afghanistan sebagai “pnjuang kemerdekaan”? John lalu jadi pejuang kemerdekaan. Apa salahnya dengan hal itu? Bukankah Presiden George W. Bush dan Tony Blair berulang kali mengumumkan bahwa “Islam adalah agama damai”? Mengapa harus memenjarakan pengikut agama damai yang hanya melakukan apa yang tertulis dalam ajaran agama damainya?

Pihak Barat telah salah – salah karena melakukan dukungan, bersikap tidak peduli dan menipu diri sendiri.

Sebagai bacaan wajib musim panas tahun pertama mahasiswanya, Prof. Michael Sells dari University of North Carolina menyusun buku berjudul Approaching the Qur’an (Menelaah Qur’an) yang isinya hanya ajaran2 “baik” dari Qur’an yakni ayat2 Mekah saja, dan ayat2 Medinah yang penuh kekerasan, kucuran darah yang memerintahkan pembunuhan, penjarahan, dan pemerkosaan kafir, yang membuat orang waras manapun muak, sengaja tidak dimasukkan. Ini tidak lebih daripada permainan tipuan belaka. Penipuan yang sama dilakukan pula dalam buku2 karangan Karen Armstrong dan John Esposito tentang Islam. Anak2 muda Amerika dibohongi. Citra yang keliru tentang Islam diberikan pada mereka oleh akademis2 Barat, yang hanya Tuhan saja sendiri yang tahu apa tujuannya. Tatkala anak2 muda ini percaya apa yang dijejalkan dalam mulut mereka, percaya akan pertimbangan mereka, dan lalu memeluk Islam, maka masyarakat mencap mereka sebagai teroris, memenjarakan mereka, dan menghukum mereka. Bukankah ini munafik? Anak2 muda ini tidak bersalah. Mereka adalah hasil sikap masyarakat yang salah yang disebut sebagai kebenaran politis.

Berapa banyak koran2, TV2, dan radio2 yang berani mengatakan hitam ya hitam jika itu tentang Islam? Politikus kita yang mana yang berani berdiri di muka kamera dan menyatakan kepada seluruh bangsa bahwa Islam bukanlah agama damai? Bagaimana dengan anak2 kita? Jika seseorang berani mengatakan yang sebenarnya, maka dia seketika dicap sebagai rasis atau pembenci, dan kepalanya akan melayang. Akan tetapi, pelaku propaganda Islam diberi kebebasan untuk memutarbalik kebenaran dan menyebarkan kebohongan2 mereka, karena mereka tahu mereka tidak akan ditantang dengan apapun yang mereka katakan.

CAIR, Council of American-Islamic Relations (Konsul Hubungan Islam Amerika) (atau yang lebih tepat disebut sebagai “Conning Americans with Islamic Ruse” (Menipu Amerika dengan Muslihat Islam) membanjiri ribuan perpustakaan2 di seluruh Amerika dengan buku2 Islam, dengan harapan dapat menemukan John Walkers Lindsh yang lain. Mesjid2 dibangun di setiap kota dan desa di seluruh Amerika untuk membangkitkan kebencian terhadap Amerika diantara anak2 Amerika. Keadaannya malah lebih parah lagi di Eropa, Australia, Kanada, dan negara2 non-Muslim. Menurut “laporan rahasia” yang ditulis oleh Sean Rayment, Security Correspondent dari harian Sunday Telegraph pada tanggal 25 Februari, 2007, menyatakan bahwa lebih dari 2.000 Muslim berusaha melakukan aktivitas teroris di negaranya. Tiada seharipun seseorang tidak dibunuh teroris Muslim di penjuru dunia. Apa sih yang dibutuhkan agar dunia bangun dan menyadari bahwa Islam bukanlah agama tapi aliran sesat yang berbahaya? Kapan kita akan mempelajari Qur’an dan sejarah Islam untuk mengerti bahwa teroris bukanlah “ekstrimis” tapi hanya Muslim yang menjalankan ajaran2 agamanya yang asli dan nyata dan contoh perbuatan telah dilaksanakan oleh nabi mereka yang tercinta?

Begitu orang memeluk Islam, mereka masuk dunia kebohongan, kebodohan dan ketakutan, di mana khayalan menjadi kenyataan dan kejahatan dinyatakan sebagai perintah illahi. Nilai2 moral mereka mulai berantakan dan mereka melakukan hal2 yang tidak dapat diterima sebelum mereka kena indoktrinasi Islam. Semakin lama mereka berlaku seperti itu, semakin keras pula diri mereka, sampai2 tidak mungkin lagi kembali ke dunia nyata. Islam bertindak bagaikan kelumpuhan yang menyebar, yang perlahan-lahan mengkorupsi nalar dan nurani, sampai membentuknya menjadi buah Islam terbaik bagi seluruh Muslim yakni jihadis, atau yang lebih dikenal sebagai teroris, yang adalah mereka yang paling dicintai Allâh dan rasulnya.

Osherwo memberikan penjelasan kejiwaan yang lengkap terhadap kecenderungan ini: “Menurut teori disonan (pertentangan), ketika seseorang melakukan tindakan atau mempercayai hal yang tidak disetujuinya yang bertentangan dengan apa yang dipikirkannya, maka pertentangan ini mengakibatkan ketegangan yang tidak menyenangkan. Orang ini lalu akan mencoba mengurangi pertentangan, dan biasanya dengan cara mengubah kelakukannya agar sesuai dengan perbedaan atau kepercayaan tadi. Beberapa kejadian di Kenisah Rakyat dapat menerangkan terjadinya proses ini. Kejadian2 mengerikan di Jonestown tidak terjadi hanya karena ancaman2 belaka, dan tidak terjadi tiba2. Hal ini tidak terjadi karena orang2 lepas kontrol atau hilang ingatan, yang mengkibatkan mereka melakukan hal2 yang tidak waras. Yang terjadi adalah seperti yang dijelaskan dalam teori disonan kognitif, yakni orang2 membenarkan pilihan dan tekad mereka sendiri. Sama seperti air terjun raksasa dimulai dari beberapa tetes saja, maka perbuatan ekstrim dan musibah besar dalam terjadi melalui sikap setuju untuk melakukan perbuatan2 sepele yang tampaknya tak berarti. Dalam Kenisah Rakyat, prosesnya dimulai dengan menjalani pengurungan diri dan hanya bergabung bersama gereja Jones saja. Hal ini ditambah pula dengan kecenderungan membenarkan tekad dan tindakan dirinya.”

Mualaf (Muslim baru) seringkali menghadapi banyak kesukaran, dan ini mereka anggap sebagai “ujian dari Tuhan” dan “proses penyucian”. Hal ini dimulai dari berhenti minum minuman beralkohol dan makan babi. Memperhatikan apa yang dimakannya dan memilih makanan halal merupakan pembatasan kemerdekaan. Yang pria pelan2 tidak bergabung dengan para wanita sambil menekan hasrat seksual mereka. Hal ini mengganggu pikiran dan mereka seringkali terus-menerus merasa bersalah. Pikiran2 seksual tidak dapat dengan mudah ditekan. Akibatnya, banyak dari mereka yang terobsesi dengan seks. Seluruh tenaga mental mereka digunakan untuk memerangi “setan” dalam diri mereka. Semakin banyak mereka merasa bersalah tentang seks, semakin mereka benci terhadap wanita yang mereka salahkan karena menggodanya.

Lalu mereka wajib melakukan sholat lima waktu dalam bahasa yang tidak mereka kenal. Jika tidak sholat, mereka merasa bersalah dan harus melakukan sholat2 penggantinya. Wajib sholat dan tepat melakukannya adalah bentuk lain dari perbudakan mental. Qur’an juga harus dibaca dan dihafalkan, tapi tidak perlu dimengerti. Yang paling penting adalah pelafalan yang benar. Muslim tidak diperbolehkan untuk bertanya apalagi mengritiknya. Ini dapat berarti kematian.

Lalu ada daftar2 panjang yang termasuk haram yang harus dihindari Muslim, seperti anjing, babi, kencing, dan kafir. Muslim harus waswas dengan hal2 yang kotor ini dan cuci tubuh setiap kali menyentuh mereka. Bagi mualaf wanita, pelarangan bahkan lebih banyak lagi. Dia harus mengerudungi dirinya dengan jilbab dan memakai pakaian longgar, bahkan di hari panas terik sekalipun. Belanja ke pasar sambil berjilbab di siang hari yang panas merupakan siksaan. Semua kesusahan ini meningkatkan iman Muslim pada Islam lebih banyak lagi. Mereka mengira dengan lebih banyak menderita maka mereka akan lebih banyak menerima upah di alam baka. Para wanita harus tunduk pada kaum pria di keluarganya dan selalu taat dan penuh hormat. Mereka diancam, dihina, dipukul, diperkosa dan bahkan dibunuh, dan tiada perlindungan yang berarti dari masyarakat Muslim. Islam sangat berharga bagi Muslim, alasan utama adalah karena melakukan ibadah Islam sangatlah sulit.

Keadaan kejiwaan kecenderungan ini diterangkan oleh Osherow: “Ambilah contoh, calon anggota datang pertama kali ke Kenisah Rakyat. Jika seorang mengalami awal yang sulit untuk diterima dalam sebuah kelompok, maka orang ini cenderung mengira kelompok ini menarik hati, agar membenarkan dirinya dalam menjalani banyak kesusahan dalam kelompok ini."

Aronson and Mills [293] menunjukkan bahwa murid2 yang mengalami rasa malu besar sebagai persyaratan diterima dalam suatu kelompok diskusi, maka mereka menilai percakapan2 dalam diskusi itu jauh lebih menarik dibandingkan penilain murid2 lain yang tidak mengalami hal yang memalukan. Padahal dalam kenyataannya, percakapan2 tersebut sangatlah membosankan. Orang yang sukarela menjalani hal2 yang sulit juga cenderung menganggap hal itu tidak sesulit yang sebenarnya. Zimbardo [294] dan koleganya menunjukkan hal ini melalui suatu prosedur yang mengharuskan orang2 yang yang berpartisipasi untuk sukarela disetrum. Mereka yang mengira punya pilihan lain dalam hal ini melaporkan tidak merasa begitu sakit ketika disetrum. Lebih tepatnya, mereka yang mengalami disonansi yang lebih besar, yang membenarkan diri sendiri untuk mau sukarela disetrum, melaporkan bahwa rasa disetrum tidak sesakit yang dilaporkan orang lain yang tidak mengalami disonansi. Hal ini berpengaruh bahkan di luar perasaan dan perkataan mereka; mereka jadi lebih giat melakukan hal sulit itu tersebut, reaksi kulit galfanik mereka pada setrum yang terbaca di alat pengukur juga ternyata rendah. Jadi proses menekan disonansi bagaikan pedang bermata dua: di bawah bimbingan yang benar, orang yang sukarela menjalani hal sukar menganggap hal itu tidak seberat yang sebenarnya, tapi bisa juga malah mengakibatkan hal yang sebaliknya: “Kami mulai menyukai pertemuan2 yang berlangsung lama melelahkan, karena kami diberitahu bahwa pertumbuhan rohani datang dari pengorbanan diri sendiri.” (Mills, 1979)
[293] Aronson, E., AND Mills, J. The effects of severity of initiation on liking for a group. Journal of Abnormal and Social Psychology. 1959, 59, 177-18 1.
[294] Zimbardo, P. The cognitive control of motivation. Glenview, Ill.: Scott Foreman, 1969.


Hal ini menjelaskan mengapa Muslim dengan senang hati menjalani berbagai siksaan dan menganggapnya sebagai anugrah. Semua penderitaan ini dianggap sebagai pengorbanan kecil untuk mencapai upah yang lebih besar. Semakin menderita, semakin besar pula upanya. Contoh ekstrim pengabdian ini dapat dilihat di bulan Ashura, ketika Shia Muslim beramai-ramain memukuli diri sendiri di bagian dada dan mencambuki punggung mereka dengan cambuk besi, dan bahkan memotong jidat mereka sampai darah banyak mengucur. Dengan berlumuran darah sendiri, mereka berbaris ramai2 sehingga mengingatkan gambaran neraka yang ditulis Dante. Selain sholat lima waktu sebagai kewajiban, sebulan puasa makan minum, dan ibadah2 berat lainnya, Muslim juga harus menyerahkan seperlima penghasilan mereka kepada mesjid sebagai Khoms, dan dia juga harus memberi zakat.

Muhammad memerintahkan pengikutnya untuk melakukan jihad dan merampoki kekayaan kaum non-Muslim. Hal ini mungkin meragukan bagi beberapa pengikutnya yang masih punya nurani. Apakah memang kekayaan yang diambil melalui perampasan merupakan kekayaan yang suci? Tentunya begitu yang mereka pikirkan. Reaksi Muhammad adalah kekayaan hasil rampasan itu suci jika seperlimanya diberikan padanya. Dia menjejalkan ayat berikut ke dalam mulut tuhan boneka jejadiannya, memerintahkan dirinya untuk:
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [295]
[295] Qur’an, Sura 9, Verse 103

Seperti yang kukatakan sebelumnya, setelah pengusicaran dan pembantaian masal kaum Yahudi di Medina, kota itu bukan lagi kota industri yang produktif. Sumber kekayaan mereka hanya dari merampok dan merampasi suku2 Arab lainnya. Kaum Muslim hanya bergantung pada barang jarahan yang didapatkan dari usaha merampok terus-menerus dan semua itu diatur oleh Muhammad. Khoms diwajibkan oleh sang Nabi untuk “memurnikan” harta haram itu dan tentunya untuk mengisi peti harta karun sang Nabi suci dan menyuplai tempat tidurnya dengan daging2 wanita yang baru. Bahkan sampai hari ini pun, para Muslim yang mencari nafkah secara jujur wajib untuk bayar khoms dan zakat. Terdapat ayat2 yang terus-menerus memperingatkan Muslim untuk “menyumbangkan sebagian uang untuk jalan Allâh”(Q.2:195) dan mengharuskan untuk “perang bagi Iman, dengan segala harta dan orang2nya.” (Q.8:72)

Muhammad menawarkan surga penuh orgi (pesta seks) dengan segala keindahan2nya bagi siapapun yang percaya padanya dan melakukan jihad baginya. Yang diperlukan hanyalah berhenti berpikir dan percaya apapun yang dikatakannya dan ini akan memberikannya jaminan masuk surga dan kenikmatan seksual abadi. Begitu seseorang masuk Islam atau aliran kepercayaan sesat manapun, dia pelan2 akan diminta untuk memberikan apapun yang dimilikinya, dari uangnya sampai waktunya. Tak lama kemudian dia akan begitu terlibat sampai susah untuk ke luar. Rasa sakit untuk mengakui bahwa dirinya memang ditipu amatlah pedih sehingga dia lebih memilih tidak menghadapi kenyataan dan terus saja membela imannya.

Osherow menjelaskan: “Begitu terlibat, seorang anggota harus menghabiskan waktu dan tenaga yang semakin banyak bagi Kenisah Rakyat. Ibadah2 dan pertemuan2 memenuhi segala waktu akhir minggu (Sabtu dan Minggu) dan beberapa petang setiap minggu. Bekerja untuk proyek2 Kenisah Rakyat dan menulis berbagai tulisan bagi politikus2 dan media memakan semua waktu senggang anggota. Sumbangan uang yang tadinya “sukarela” (tapi dicatat) diubah jadi sumbangan wajib seperempat penghasilan mereka. Akhirnya, seorang anggota harus melaporkan semua kekayaan, simpanan, cek uang kepada Kenisah Rakyat. Sebelum masuk ruang pertemuan di setiap ibadah, seorang anggota harus berhenti di sebuah meja dan menulis surat atau menandatangi dokumen kosong yang harus diserahkan kepada gereja Jones. Jika tidak mau, tindakan menolak ini dianggap “kurang beriman” pada Jones. Setiap tuntutan baru mengandung dua akibat: secara prakteknya, tuntutan baru membuat orang semakin terperosok masuk ke dalam jaringan Kenisah Rakyat dan sukar keluar; sedangkan akibat pada diri orang itu adalah membenarkan sikapnya sendiri karena menunjukkan iman yang kuat. Hal ini sama seperti yang ditulis Mills (1979): “Kami harus menghadapi kenyataan menyakitkan. Uang tabungan simpanan kami habis. Jim menuntut kami menjual asuransi jiwa kami dan menyerahkan uangnya kepada gereja, jadi kami tidak punya apa2. Semua kekayaan kami sudah diambil. Impian kami pergi melakukan missi ke luar negeri pupus sudah. Kami kira kami tidak mau berhubungan lagi dengan orang tua kami ketika menyatakan hendak meninggalkan negeri ini. Bahkan anak2 yang kami tinggal dan diurus oleh Carol dan Bill juga terang2an memusuhi kami. Jim berhasil melakukan semua ini dalam waktu singkat saja! Yang akhirnya kami miliki hanya Jim dan Alasan Utama saja, jadi kami berkeputusan untuk bersiap memberi semua kekuatan kami untuk kedua hal itu.”

Hal yang sama juga terjadi pada para Muslim awal. Mereka yang ikut hijrah bersama Muhammad ke Medina menjadi pengungsi yang tidak punya apa2 lagi. Mereka tidak punya pekerjaan dan rumah. Muhammad telah meminta kaum Ansar (= Penolong, Muslim Medina) untuk menolong kaum Muslim pendatang dan membagi apapun yang dimiliki dengan mereka. Ini tentunya bukan hal yang mudah bagi kedua belah pihak. Sebagian besar Muslim pendatang biasa tinggal di mesjid.

Ada kisah menarik tentang seorang Ansar menawarkan istrinya pada seorang Muslim pendatang:

Abdur Rahman bin Auf berkata, “Ketika kami datang ke Medina sebagai pendatang, Rasul Allâh mendirikan persaudaraan antara kami dan Sa’d bin Ar-Rabi'. Sa’d bin Ar-Rabi' berkata (padaku), “Aku adalah yang terkaya diantara orang2 Ansar, jadi aku akan memberimu separuh hartaku dan kau boleh melihat kedua istriku dan siapapun yang kau pilih dari keduanya, maka akan kuceraikan dia, dan setelah dia menyelesaikan waktu yang ditentukan (sebelum menikah) kau boleh menikahinya.” Beberapa hari kemudian, ‘Abdur Rahman datang dan terdapat bercak kuning (noda) di tubuhnya. Rasul Allâh bertanya padanya apakah dia telah menikah. Dia mengiyakannya. Sang Nabi berkata, ‘Siapakah yang kau nikahi?’ Dia menjawab, ‘Wanita dari kaum Ansar.” [296]
[296] Sahih Bukhari Volume 3, Book 34, Number 264

Para Muslim mengutip kisah ini untuk menunjukkan bagaimana Muhammad memperkuat persaudaraan diantara para Muslim. Tapi kisah ini juga menunjukkan bahwa para Muslim begitu fanatik sehingga tidak mengindahkan urusan pribadi dan bahkan mengorbankan perkawinan mereka. Semua kemerdekaan dan kemandirian mereka sudah hilang lenyap. Dalam kebanyakan kasus mereka menyerahkan kemerdekaannya secara sukarela. Mereka yang dapat melihat masalah tidak berani membicarakan hal ini. Kaum pendatang tidak dapat kembali lagi. Memberontak dianggap sebagai kejahatan terbesar. Kaum Ansar pun tidak berani bicara karena setiap orang bisa jadi mata2 bagi sang Nabi. Mereka dapat dibunuh pada keesokan harinya dan selalu saja ada pengikut fanatik yang dengan suka hati akan membunuh Muslim lain. Hal ini sama persis dengan keadaan saat ini di mana kebanyakan Muslim dengan suka hati akan membunuh siapapun yang mengritik agamanya. Mereka yang melihat masalah tidak punya pilihan lain selain tunduk dan terus ikut kelompoknya. Dalam suatu hadis kita baca:

Seorang pria buta punya seorang budak wanita yang sedang mengandung (bayi pria buta itu sendiri) dan budak ini suka mengolok-olok dan menghina sang Nabi. Ia melarangnya tapi budaknya tidak mau berhenti. Ia memarahinya, tapi budak itu tetap tidak meninggalkan tabiatnya. Suatu malam, budak itu mulai mencemooh sang Nabi dan menghinanya. Lalu pria itu mengambil sebuah pisau, menempelkannya di perut budak itu, lalu menusuknya, dan membunuhnya. Janinnya ke luar diantara kakinya berlumuran darah. Pagi harinya, sang Nabi diberitahu tentang hal ini. Dia mengumpulkan orang2nya dan berkata: Aku meminta dengan sangat demi Allah orang yang melakukan hal ini untuk berdiri mengaku. Pria buta itu lalu melompat dan dengan gemetar berdiri.
Dia duduk di sebelah sang Nabi dan berkata: Rasul Allah! Akulah majikan budak itu; ia seringkali menghina dan mengolok-olokmu. Aku melarangnya, tapi dia tidak berhenti, aku memarahinya, tapi dia tidak meninggalkan tabiatnya. Aku punya dua anak laki bagaikan mutiara dari budak perempuan ini, dan ia adalah kesayanganku. Kemaren malam, dia mulai lagi menghina dan mengolok-olok engkau. Lalu kuambil sebuah pisau, menempelkannya di perutnya, dan menusukkannya sampai aku membunuhnya.
Sang Nabi berkata: Oh jadilah saksi ini, tidak ada pembalasan yang perlu dibayar bagi darahnya”.
[297]
[297] Sunan Abu-Dawud Book 38, Number 4348

Seorang pria membunuh gundik dan anaknya sendiri dan yang hanya perlu dikatakannya untuk membela diri adalah gundik itu menghina sang Nabi dan lalu Muhammad membebaskannya.

Dalam suasana penuh teror seperti ini, siapakah yang berani melawan kehendak Muhammad? Bagaimana jika pria itu bohong untuk menghindari hukuman yang layak? Pesan yang disampaikan Muhammad sudah jelas: Siapapun yang menghinanya, harus dibunuh dan pembunuhnya tidak akan dihukum. Dapat dibayangkan berapa banyak pembunuh yang bebas hukuman dengan alibi ini.

Hukum bagian 295-C di Pakistan berbunyi: “Siapapun yang dengan kata2, yang diucapkan atau ditulis, atau dengan bukti yang dapat dilihat, atau dengan tuduhan, siratan, atau sindiran, secara langsung atau tidak langsung menghina nama suci Nabi Muhammad akan dihukum mati dan juga diberi sanksi.”

Muhammad tidak malu2 mengutarakan impiannya. Sebuah hadi mengatakan bahwa dia berkata: “Tiada seorang pun darimu yang punya iman sampai dia mencintai diriku lebih dari mencintai ayahnya, anak2nya, dan seluruh umat manusia.” [298] Dia adalah narsisis dan semua narsisis ingin dicintai dan ditakuti. Keduanya sama saja baginya. Yang dia pedulikan hanyalah keinginannya saja. Muhammad begitu ingin dihormati sampai2 ketika sekelompok orang Arab menemuinya dan tidak menghormatinya sebagaimana yang diinginkannya, dia membuat tuhannya berkata:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.
Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.
Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.”
[299]
[298] Sahih Bukhari Volume 1 Number 14
[299] Qur’an, Sura 49, Verses 2-4

Osherow menyebut isolasionisme (pengasingan diri) sebagai “aspek di Jonestown yang paling merusak.” Katanya, “Sampai saat akhir, kebanyakan anggota Kenisah Rakyat percaya pada Jim Jones. Pengaruh2 luar dalam bentuk kekuasaan atau bujukan, dapat mengakibatkan orang jadi tunduk. Tapi yang harus diperhatikan adalah bagaimana anggota memproses kepercayaan itu dalam pikiran mereka. Meskipun perkataan2 Jones selalu tidak konsisten dan metodanya kejam, kebanyakan anggotanya tetap tunduk di bawah perintahnya.”

Qur’an juga mengangdung banyak hal yang tidak konsisten, penuh kontradiksi dan salah keterangan. Qur’an adalah buku yang membingungkan, tulisannya kacau balau, penuh khayalan dan pernyataan2 yang tidak masuk akal. Buku ini benar2 mimpi buruk bagi seorang editor. Tapi meskipun begitu, para Muslim menganggapnya sebagai buku muzizat, hanya karena Muhammad mengatakannya begitu.

Keterangan tepat mengapa orang terus saja percaya hal yang tak masuk akal ditulis oleh Osherow tentang pengamatannya pada Kenisah Rakyat. Dia menulis: “Begitu diri mereka terasing di Jonestown, hanya sedikit ada kesempatan dan motivasi untuk menentang; mereka tidak bisa melawan atau melarikan diri lagi. Dalam keadaan seperti itu, setiap orang berusaha menerima nasib buruk dirinya sebagai hal yang tidak buruk. Orang yang mengalami nasib buruk cenderung menilai nasibnya lebih positif dari orang lain. Contohnya, riset psikologi sosial menunjukkan bahwa jika anak2 tahu bahwa mereka akan disuruh makan sayuran yang mereka tidak sukai, maka mereka cenderung meyakinkan diri bahwa sayuran itu tidak terlalu memuakkan untuk dimakan. [287] Jika seseorang tahu dia harus berhubungan dengan orang lain, dia cenderung menjabarkan diri orang tersebut dengan lebih ramah.”[288]
[287] Brehm, J. Disonansi kognitif yang meningkat yang dilakukan penganut kepercayaan. Journal of Abnormal and Social Psychology, 1959, 58, 379-382.
[288] Darley, J. and Bersceild, E. Increased liking as a result of the anticipation of personal contact. Human Relations, 1967, 20, 29-40.


Pemimpin aliran sesta seringkali mengurung anggota2nya agar tidak bisa berhubungan dengan dunia luar. Jim Jones membangun kotanya sendiri di tengah2 hutan Guyana dan menamakannya sesuai namanya sendiri: “Jonestown” (kota Jones). Muhammad perti ke Yahtrib, kota yang aslinya dibangun oleh Muhammad dan setelah meyakinkan penduduknya orang Arab untuk mengikuti dirinya, maka dia pun mengubah nama kota itu sesuai dengan julukan yang diberikan Muhammad pada dirinya sendiri: Medinat ul-Nabi (Kota Sang Nabi).

Di Medina, Muhammad mulai membunuhi dan menghina terang2an setiap orang yang mempertanyakan otoritasnya. Medinat ul Nabi jadi persis sama dengan Jonestown. Muhammad menjadi penguasa mutlak dan yang melawan dihukum kejam. Jika ada pendatang masuk Medina dan jadi Muslim, maka dia tidak bisa ke luar dengan mudah.

Salah seorang yang berhasil meninggalkan Muhammad adalah Abdullah ibn Sa'd Abi Sarh. Ketika Muhammad menaklukkan Mekah, dia memberi pengampunan kepada semua penduduk Mekah kecuali kepada 10 orang. Orang2 ini adalah mereka yang mengritik dan mengejek dirinya. Salah satu dari mereka adalah Abi Sarh.

Abi Sarh dulu adalah juru tulis Muhammad dan dia menulis ayat2 Qur’an yang diimlakan Muhammad di Medina. Dia lebih berpendidikan daripada Muhammad dan seringkali memperbaiki komposisi ayat2 Muhammad dan menyarankan penulisan yang lebih baik dan Muhammad pun setuju. Hal ini membuat Abi Sarh sadar bahwa Qur’an tidak diwahyukan dan Muhammad hanya mengarangnya saja. Dia lalu melarikan diri dan kembali ke Mekah. Di sana dia menyebarkan hal itu. Ketika Muhammad menaklukkan Mekah, meskipun sudah menjanjikan pengampunan bagi seluruh orang Mekah jika mereka menyerah dan masuk Islam, dia tetap memerintahkan pemancungan atas Abi Sarh. Nyawa Abi Sarh selamat karena Othman menengahi. Hal lain adalah karena Muhammad tidak bisa memberi isyarat yang jelas pada pengikutnya. Ketika Othman memohon Muhammad untuk tidak membunuh Abi Sarh, yang adalah saudara angkatnya pula, Muhammad diam saja. Pengikut2 Muhammad mengira sikap diamnya adalah karena dia mengabulkan permintaan Othman. Setelah Othman dan Abi Sarh pergi, Muhammad mengomel dan berkata dia tidak mau menolak permintaan sahabatnya Othman, tapi dia berharap pengikutnya dapat melihat raut muka Muhammad yang tidak suka dan lalu membunuh Abi Sarh. Kisah ini juga menunjukkan kemunafikan sang Nabi Allâh yang ingin menyenangkan Othman tapi sekaligus ingin membunuh Abi Sarh. Dia tidak mau langsung mengeluarkan perintah bunuh kepada pengikutnya karena takut Othman menyalahkannya.

Ibn Ishaq menjelaskan: “Alasan dia memerintahkan Abi Sarh dibunuh adalah karena dulu Abi Sarh itu Muslim dan biasa menulis ayat2 bagi Muhammad; tapi lalu dia murtad dan kembali ke Quraish (Mekah)…” Dia seharusnya dibunuh karena murtad, tapi selamat karena Othman menengahi. [289]
[289] Sirat, p. 550

Suasana di Medinah sangat menegangkan. Islam dan Jihad jadi pusat kehidupan masyarakatnya. Muhammad memerintahkan mereka pergi ke mesjid, sembahyang lima kali sehari, dan para prianya ke luar kota untuk menjarah, merampok, menyerang kafilah2, menghancurkan desa2, membunuh para pria dan memperkosa wanita2.

Hadis yang dilaporkan baik Imam Bukhari maupun Imam Muslim menunjukkan sebanyak apa ancaman yang dilakukan Muhammad untuk membuat orang2 tunduk pada perintahnya. Dia dilaporkan berkata:

Aku berpikir untuk mengumumkan saat sholat dan menyuruh seseorang memimpin jemaat sholat, dan aku akan pergi bersama orang2 sambil membawa obor kepada orang yang tidak ikut sholat dan lalu membakar rumah2 mereka dengan api. [290]
[290] Muslim Book 004, Number 1370; and Bukhari Volume 1, Book 11, Number 626

Di hadis ini Muhammad mengancam bakar bagi mereka yang tidak mau sholat bersama di mesjid.

Hidup di Medina jadi sangat berubah. Dulu sebelum Muhammad datang, masyarakat Yathrib adalah petani, pembuat karya seni, dan pedagang. Pusat perdagangan digerakkan oleh orang2 Yahudi, yang adalah pekerja keras, tahu baca tulis, dan makmur. Orang2 Arab kebanyakan buta huruf, malas, dan santai. Mereka tidak punya banyak kemahiran dan bekerja bagi kaum Yahudi. Ketika Muhammad mengusir dan membunuhi orang2 Yahudi, kota itu berubah drastis. Tidak ada bisnis apapun yang dapat dikerjakan orang2 Arab untuk menafkahi dirinya. Ekonomi kota runtuh semua. Orang2 hidup bergantung sepenuhnya pada barang jarahan dan rampokan yang disediakan Muhammad bagi kelangsungan hidup mereka. Bagi mereka, tidak ada jalan ke luar untuk kembali. Mereka bergantung sepenuhnya pada Muhammad dan barang2 jarahan darinya. Bahkan orang2 yang tidak percaya padanya seperti Abdullah ibn Ubbay dan pengikutnya juga ikut pula dalam kegiatan penjarahan yang dilakukan Muhammad. Ini bukan berarti mereka mau mendukung Islam tapi karena barang jarahan merupakan satu2nya mata pencaharian bagi penduduk Medina. Jika mereka tidak mau ikut dalam penjarahan yang dilakukan Muhammad maka mereka akan kelaparan. Sama seperti anggota2 Kenisah Rakyat, para Muslim dihadapkan pada keadaan yang tidak memungkinkan lagi, yang akhirnya membuat mereka menerima keadaan mereka sendiri. Beberapa yang berani bicara melawan pemimpinnya akan dibunuh atau dikecam.

Masyarakat Arab Medina merupakan masyarakat termiskin. Mereka bodoh, miskin, dan percaya takhayul. Bagi mereka, hanya memiliki satu unta dan satu mantel saja sudah membuat mereka merasa kaya. Mereka dulu bekerja sebagai pelayan bagi orang2 Yahudi. Beberapa hadis menyatakan bahwa orang2 Arab ini mendapatkan harta pertama mereka dari “barang jarahan dari Allâh” sesuai dengan yang disebut dalam Qur’an, dan barang jarahan itu didapatkan dari usaha perampokan. Selain itu banyak tersedia pula jarahan berupa budak2 seks wanita. Para wanita yang ditangkapi di usaha2 perampokan menjadi tambahan rangsangan bagi Muslim untuk ikut menjarah, terutama para mujahirin (yang hijrah dari Mekah ke Medinah) yang pada umumnya masih bujangan.

Begitu kaum Yahudi dibunuhi dan diusir, para Arab miskin di Medina tidak punya pilihan lain selain ikut pasukan Muhammad dan berperang baginya, jika masih ingin bisa makan. Alasan utama Muslim awal untuk berjihad adalah kekayaan dan seks.

Tolstoy berkata, “Baik untung maupun buntung tergantung pada bagaimana seseorang melihat kenyataan terhadap cara hidupnya salah tapi mampu mengelabui diri sendiri agar tidak menganggap nasibnya merana.” [281]
[281] The Kreutzer Sonata

Jim Jones menciptakan suasana dominasi dan pengontrolan total. Osherow menulis: “Dengan mengamati ketaatan dan pengaturan suasana di Jonestown, maka akan diketahui mengapa orang2 bertindak sesuatu. Begitu anggota2 sudah masuk ke dalam Kenisah Rakyat di Jonestown, tidak banyak yang dapat mereka lakukan selain mengikuti apa yang diperintahkan Jim Jones. Mereka di bawah pengaruh kekuasaan mutlak. Mereka tidak punya banyak pilihan, dikelilingi penjaga bersenjata api dan berada di tengah2 hutan, mereka telah menyerahkan passport dan surat2 penting mereka, telah bersumpah kepada Jones, dan percaya keadaan di luar bahkan lebih mengancam. Anggota2 diberi makan yang sangat tidak bergizi, disuruh bekerja keras, kurang tidur, dan terus-menerus dikecam keras oleh Jones atas kesalahan2 mereka. Semua ini menekan mereka untuk tunduk terus pada Jones.”

Kita tahu bahwa Muhammad bersikap kejam terhadap mereka yang meninggalkannya. Jadi bisa dilihat bahwa tidak banyak perbedaan antara jalan pikir Muhammad dan Jones. Akan tetapi, tidak benar kalau dianggap bahwa anggota2 aliran sesat tetap tinggal karena mereka dipaksa tunduk secara fisik saja. Pemaksaan sikap tunduk secara moral jauh lebih berpengaruh dan berlangsung lama. Korbannya jadi penurut, bahkan turut berpartisipasi terhadap penindasan dan perbudakan atas diri mereka sendiri.

Osherow menulis: “Di saat upacara bunuh diri akhir, kebanyakan anggota tidak mungkin lagi untuk bisa melawan atau melarikan diri. Tapi sebenarnya, tidak dapat disangkal bahwa tidak banyak yang ingin melawan dan pergi. Kebanyakan anggota percaya pada Jones. Di sebuah tubuh wanita ditemukan pesan yang tertulis di tangannya di saat2 terakhir yang tertulis: ‘Jim Joneslah satu2nya yang benar.’ [282] Mereka tampaknya telah menerima pentingnya dan bahkan “indahnya” kematian. Sebelum upacara bunuh diri berlangsung, seorang penjaga mendekati Charles Garry, yang adalah salah satu pengacara yang disewa Kenisah Rakyat. Penjaga itu berkata, “Saat yang indah… kita semua akan mati.” [282]
[282] Cahill T. In the valley of the shadow of death. Rolling Stone. January 25, 1979.
[283] Lifton, R. J. Appeal of the death trip. New York Times Magazine, January 7, 1979.


Anggota yang berhasil selamat di Jonestown adalah seorang dokter gigi dan dia diwawancarai tentang terjadinya kematian2 itu. Katanya, “Jika aku berada di sana, aku pasti jadi salah seorang dari mereka yang berbaris untuk minum racun dan merasa bangga melakukannya. Yang kusedihkan adalah: aku tidak ikut mengalami saat akhir itu.” [284]
[284] Gallagher, N. Jonestown: The survivors' story. New York Times Magazine, November 18, 1979.

Sukar untuk menerangkan dan mengerti peristiwa ini. Kenyataannya adalah begitu seorang percaya bahwa pemimpin alirannya adalah utusan illahi, maka mereka dengan suka hati mau jadi partisipan dan pelaku dari pikiran2 pemimpinnya yang tidak waras. Apa yang mendorong orang normal untuk berlaku ekstrim seperti ini? Apakah ini dapat menerangkan sikap fanatik dan pengabdian mutlak dari Muslim2 awal terhadap Muhammad? Apakah para Muslim awal itu melihat Muhammad sama seperti pengikut Kenisah Rakyat melihat Jim Jones? Hadis berikut ini menerangkan fanatisme buta para Muslim awal.

Rasul Allâh datang mengunjungi kami di siang hari dan air wudhu dibawa baginya. Setelah dia melakukan wudhu, air sisa wudhu dibawa oleh orang2 dan mereka mulai membilasi tubuh2 mereka dengan air itu (sebagai berkat). [285]
[285] Bukhari Volume 1, Book 4, Number 187

Di hadis lain kita baca:
Ali punya masalah di matanya, sehingga sang Nabi mengulaskan air ludahnya ke matanya dan memohon Allâh untuk menyembuhkan matanya. Ali seketika sembuh bagaikan tidak pernah sakit sebelumnya. [286]
[286] Bukhari Volume 4, Book 52, Number 253

Semua kebohongan ini dikarang oleh para pengikut Muhammad. Muhammad tidak mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan selalu menderita sakit tubuh, jadi bagaimana mungkin dia sanggup mengobati orang lain dengan ludahnya?

Osherow melaporkan kisah berikut, yang ditulis oleh Jeannie Mills, di mana Jim Jones melakukan muzizat melipatgandakan makanan:

Jumlah orang yang hadir di kebaktian Minggu lebih banyak daripada biasanya, dan karena suatu alasan anggota gereja tidak membawa cukup makanan bagi setiap orang. Sudah jelas bahwa lima puluh orang terakhir di antre barisan tidak akan mendapatkan makanan apapun. Jim mengumumkan, “Meskipun tiada cukup makanan bagi semua orang, aku berkati makanan yang kita miliki dan melipatgandakannya sama seperti yang Yesus lakukan di Alkitab.

Ternyata, hanya beberapa menit setelah dia mengumumkan hal mengejutkan ini, Eva Pugh keluar dari dapur membawa dua nampan berisi ayam goreng. Orang2 bersorak bahagia, terutama yang antre di bagian belakang.

“Ayam goreng yang diberkati” ini rasanya enak luar biasa, dan beberapa orang menyatakan Jim menciptakan ayam terlezat yang pernah mereka makan.

Salah seorang bernama Chuck Beikman dengan bergurau mengatakan kepada beberapa orang yang berdiri di dekatnya bahwa dia melihat Eva menyetir mobil masuk beberapa menit lalu dengan kardus2 dari restoran ayam Kentucky Fried Chicken (KFC). Dia tersenyum ketika berkata,”Orang yang memberkati makanan ini adalah Kolonel Sanders (pendiri KFC).”

Dalam kebaktian petang hari, Jim mengingatkan bahwa Chuck telah mengolok-olok berkat darinya. “Dia berbohong kepada beberapa jemaat di sini dengan mengatakan ayam2 itu datang dari restoran lokal,” kata Jim dengan marah. “Tapi Roh Keadilan menang. Karena kebohongannya, Chuck sekarang berada di WC pria, berharap dia mati saja. Dia sedang muntah2 dan mengalami diare begitu parah sehingga dia tidak bisa bicara!”

Sejam kemudian, Chuck Beikman dengan wajah pucat dan gemetar ke luar dari WC pria dan maju ke depan sambil dituntun oleh salah seorang penjaga. Jim bertanya padanya, “Ada yang ingin kau sampaikan?”

Chcuk memandangnya dengan lemah dan menjawab, “Jim, aku minta maaf akan apa yang kukatakan. Mohon maafkan aku.”

Ketika kami melihat keadaan Chuck, kami bersumpah dalam hati untuk tidak akan pernah mempertanyakan “muzizat” yang dilakukan Jim, setidaknya jangan terang2an. Beberapa tahun kemudian, kami mengetahui bahwa Jim ternyata menaruh racun ringan di sebuah kue dan memberikannya kepada Chuck.”
[269]
[269] Mills, J. Six years with God. New York: A & W Publishers, 1979

Nah, untuk menciptakan “muzizat”-nya, Jones harus bekerja sama dengan Eva. Pertanyaannya sekarang adalah mengapa wanita ini mau saja diajak menipu? Terdapat hadis2 tentang muzizat Muhammad yang serupa.

Di sebuah hadis, seseorang mengaku melihat Muhammad meletakkan tangannya ke dalam sebuah pot dan air lalu memancar darinya, sehingga seluruh tentara melakukan wudhu dari pot itu.

Aku melihat Rasul Allâh ketika sembahyang ‘Asr tiba dan orang2 mencari air untuk wudhu tapi mereka tidak menemukannya. Tak lama kemudian sebuah pot penuh air untuk wudhu dibawa kepada Rasul Allâh. Dia meletakkan tangannya ke dalam pot dan memerintahkan orang2 untuk wudhu dari pot itu. Aku melihat air memancar dari bawah jari2nya sampai semuanya melakukan wudhu (ini adalah salah satu muzizat sang Nabi). [270]
[270] Sahih Bukhari Volume 1, Book 4, Number 170

Di hadis yang lain kita baca bahwa Muhammad melipatgandakan roti; [271] atau dia memecah batu besar dengan sekopnya dan batu itu jadi pasir. [272] Atau, dia memberkati makanan yang tidak cukup untuk empat atau lima orang sehingga makanan itu cukup untuk memberi makan seluruh tentara. [273]
[271] Sahih Bukhari Volume 5, Book 59, Number 428
[272] Sahih Bukhari Volume 5, Book 59, Number 427
[273] Sahih Bukhari, Volume 7, Book 65, Number 293


Terdapat puluhan “muzizat” yang dikisahkan oleh para Muslim dilakukan oleh Muhammad. Beberapa dari (katanya) muzizat2 ini diakui sendiri oleh Muhammad. Ini adalah muzizat2 yang diakuinya sendiri, tapi Muslim tidak meragukan hal ini sama sekali. Salah satu muzizat adalah pengakuannya mengunjungi kota jin. Di hadis lain dia berkata bahwa sekelompok jin di Medina telah memeluk Islam.[274] Di satu dongengnya, dia mengaku bergulat dengan setan besar dan berhasil mengalahkannya.
[274] Sahih Muslim Book 026, Number 5559

"Tadi malam seekor setan besar dari para jin datang padaku dan ingin mengganggu sembahyangku tapi Allâh memampukan diriku untuk menaklukkannya. Aku ingin mengikatnya pada salah satu pilar2 mesjid agar kalian semua bisa melihatnya di pagi hari…” [275]
[275] Sahih Bukhari Volume 1, Book 8, Number 450

Dongeng2 seperti ini merupakan makanan bagi pengikutnya yang mudah ditipu. Ibn Sa’d mengutip kisah yang disampaikan oleh Abu Rafi, salah seorang Muslim, yang berkata suatu hari Muhammad mengunjunginya dan dia memotong kambing untuk makan malam. Muhammad suka bahu kambing dan Rafi menyajikannya. Lalu Muhammad minta satu lagi dan dia pun menyajikannya pula dan setelah habis, dia meminta lagi (Ingat bahwa Muhammad punya nafsu makan besar tak terpuaskan). Abu Rafi berkata, “Aku berikan kau kedua belah bahu. Berapa bahu yang dimiliki seekor kambing?” Muhammad menjawab, “Jika kau tidak mengatakan hal ini, kau sebenarnya bisa menyajikan berapapun bahu kambing yang kuminta.” [276]
[276] Tabaqat, Volume 1, halaman 375

Meskipun pengakuannya luar biasa, tapi kalau ditantang orang2 yang tidak mudah percaya, ternyata Muhammad berulangkali menyangkal bisa melakukan muzizat. Dia mengaku bahwa meskipun semua nabi lain diberi kemampuan untuk melakukan muzizat, satu2nya muzizat yang dimilikinya hanyalah Qur’an.

Sang Nabi berkata, “Tiada nabi diantara para nabi yang diberi muzizat yang mengakibatkan orang2 jadi yakin dan percaya, tapi aku diberikan Wahyu Illahi yang Allâh nyatakan padaku. [277]
[277] Sahih Bukhari Volume 9, Book 92, Number 379

Pertanyaannya adalah mengapa para Muslim dengan sesukanya mengarang dongeng muzizat2 yang dilakukan nabi mereka? Ini pertanyaan yang harus dijawab. Dugaanku adalah begitu Muslim yakin kebenaran Islam, mereka menghalalkan segala cara termasuk berbohong. Orang2 yang beriman teguh yang biasanya berakhlak luhur dan bermoral, ternyata dengan sukarela berbohong, ikut bagian dalam melakukan penipun, menindas orang2 lain, dan kalau perlu bahkan membunuh untuk mendukung agama mereka. “Alasan Utama” jadi begitu penting bagi mereka sehingga pertimbangan lainnya dikesampingkan. Tatkala orang jadi begitu percaya akan kebenaran suatu alasan sehingga mereka bersedia mati untuk itu, maka berbohong ataupun membunuh demi kepentingan alasan itu merupakan hal yang benar baginya. Hasil akhir menentukan tujuan sebenarnya. Filsafat dan ahli matematika Perancis bernama Pascal menulis:
“Orang tidak pernah melakukan kejahatan sedemikian menyeluruh dan suka hati, seperti ketika mereka melakukannya demi keyakinan agama.” Sejarah menyaksikan kebenaran kata2 Pascal. Telah banyak kejahatan dilakukan atas nama agama. Iman membutakan jemaat dan iman buta membutakan semuanya. Otoritas Imam Ghazali [278] dalam Islam tidak dipertanyakan. Dia berkata: “Jikalau mungkin mencapai sebuah tujuan dengan berbohong dan tidak mengatakan kebenaran, maka diperbolehkan berbohong tujuannya adalah benar.” [279]
[279] Abu Hamid Muhammad al-Ghazzâlî (1058-1111) dikenal sebagai Algazel adalah salah seorang ilmuwan Islam yang paling dihormati dalam sejarah pemikiran Islam. Dia lahir di Iran, lalu jadi ahli agama Islam, ahli filsafat, dan mistik. Dia banyak menyumbang bagi perkembangan Sufisme sebagai bagian dari Islam.

Osherow mengutip Kasindrof, “Jim Jones dengan cerdiknya mengatur kesan gerejanya akan menarik jemaat baru. Dia menyusun dengan seksama kesan umum gerejanya. Dia menggunakan surat dan pengaruh politik ratusan anggotanya untuk memuji dan mengesankan para politikus dan wartawan untuk mendukung Kenisah Rakyat, dan juga untuk mengritik dan mengancam penentang2 aliran itu.” [280]
[280] Kasindorf, J. Jim Jones: The seduction of San Francisco. New West, December 18, 1978

Jika sebuah surat kabar menulis sesuatu yang dianggap Muslim menghina Islam, maka para Muslim akan membanjiri kantor2 editor surat kabar itu untuk mengutarakan keluhan mereka. Mereka terus-menerus mengganggu sampai dikeluarkan pernyataan maaf secara resmi dan edisi surat kabar itu ditarik. Bagaimana mungkin kita bisa lupa kerusuhan massa dan pembunuhan orang2 tak bersalah ketika surat kabar Denmark, Jyllands-Posten, menerbitkan beberapa kartun Muhammad. Atau juga ketika Paus Benedict XVI mengutip perkataan kaisar Byzantium yang menanyakan, “Tunjukkan padaku apa hal baru yang dibawa Muhammad?”

Di tanggal 10 November, 2003, Muslim Public Affair Committee atau MPAC di Inggris, yang adalah badan Islam yang serupa dengan CAIR di A.S., mengeluarkan surat amarah pada penerbit Amber Books dengan tuduhan penghujatan. Tuduhan itu ditujukan kepada isi buku yang berjudul The History of Punishment (Sejarah Hukuman) yang diterbitkan oleh Amber Books.

Buku ini bukan buku tentang Islam. Buku ini menyatakan pandangan tentang hukuman2 di berbagai budaya dan masyarakat. Dalam buku ini terdapat satu bab tentang cara2 kuno dalam menghukum, seperti hukuman dalam Alkitab, hukuman Romawi dan Sharia. Terdapat gambar2 di dalamnya, dan salah satunya adalah gambar Muhammad. Muslim segera marah dengan cepatnya. Pihak penerbit menerima ribuan surat amarah dan ancaman sampai mereka ketakutan dan menarik kembali buku itu dari peredaran dan menyatakan ucapan minta maaf resmi kepada pihak Muslim.

Di kasus lain, CAIR berhasil menekan perusahaan film Paramount Pictures untuk mengubah novel Tom Clancy yang berjudul The Sum of All Fears (Inti Sari Segala Ketakutan) untuk mengganti terori Muslim di naskah yang asli dengan neo-Nazi. Sutradara film yakni Phil Alden Robinson dipaksa menulis permintaan maaf kepada CAIR, dan menyatakan bahwa dia tidak berniat untuk menunjukkan citra negatif Muslim dan menambahkan: “Aku harap kau berhasil dalam usahamu menentang segala diskriminasi.”

Ketika di tahun 2002, evangelis Pat Robertson dan Jerry Falwell mengutarakan pendapat mereka tentang Islam, para Muslim di seluruh dunia murka dan membuat onar. Mullah2 Iran mengancam membalas dan beberapa orang Kristen dibunuh, termasuk beberapa sekolah anak2 di Pakistan. Bonnie Penner Witherall, yang adalah suster Kristen berusia, ditembak mati di Sidon, Lebanon.

Osherow menulis: “Jones menanamkan kecurigaan atas semua hal yang bertentangan dengan pesannya, dan menyebut mereka hasil karya musuh. Dengan menghancurkan kesahihan sumber berita, dia memberi penawar pada anggotanya agar tidak terpengaruh oleh kritik2 dari luar.”

Hal ini sama dengan yang terjadi pada Muslim, yang menuduh para pengritik Islam sebagai Zionis dan/atau orang2 yang dibayar oleh “musuh2 Islam.” Siapapun yang berani mengritik Islam akan didatangi Muslim secara pribadi. Bukannya membantah pendapat pengritik Islam, Muslim menyerang secara ad homimem. Mereka menghina kritikannya dan mencoba merendahkannya, tapi tidak mampu menjelaskan argumentasi yang membantah kebenaran kritik itu.

“Di Jonestown,” kritik Osherow, “semua pikiran2 yang bertentangan yang mungkin menimbulkan perlawanan dari pihak anggota dikecam. Para anggota tidak melihat kritik sebagai kenyataan, tapi menganggapnya sebagai tanda mereka kurang beriman dan kurang mengerti.” Ini juga sama dengan yang terjadi pada Muslim. Mereka menyadari hidup mereka bagaikan di neraka dan negara2 mereka tidak karuan, tapi mereka memilih menyalahkan diri sendiri karena kurang bisa menerapkan “Islam yang sejati” sehingga akibatnya hidup mereka penuh derita. Padahal kenyataannya justru Islamlah sumber derita mereka.

Para pemimpin aliran sesat punya pribadi megalomaniak. Baik Jim Jones maupun Muhammad punya ego (keakuan) yang terlalu membengkak. Untuk memikat anggota baru, Jones mengadakan pelayanan masyarakat di berbagai kota. Di selebaran2 yang disebarkan tertulis:
Pendeta Jim Jones… Luar Biasa! Penuh Muzizat! Sukar Dipercaya!
Pelayanan kesembuhan kenabian yang paling unik yang engkau akan pernah saksikan! Saksikan Firman yang hadir diantara kalian!”
[266]
[266] Suicide Cult: The Inside Story of the Peoples Temple Sect and the Massacre in Guyana (201P) by Marshall Kilduff and Ron Javers (1978)

Muhammad juga punya banyak bualan tentang dirinya sendiri. Allâh yang adalah boneka ciptaannya seringkali memujinya sebagai:
Kami mengirim kamu sebagai belas kasihan untuk semua makhluk (Q.21:107)
Dan memang kau (Muhammad) punya moral2 yang luhur. (Q.68:4)
Memang benar Rasul Allâh kau adalah contoh baik untuk diikuti. (Q.33:21)
Sungguh benar inilah kata Rasul yang paling terhormat. (Q.81:19)
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q. 4:65)

Ayat terakhir jelas menunjukkan bahwa Muhammad menuntut ketaatan mutlak dan marah kalau dikritik atau kalau ada yang tidak setuju dengannya.

Osherow menulis: “Anggota jemaat belajar menanggapi hal yang bertentangan antara khotbah muluk Jones dan kerasnya aturan dalam Kenisah Rakyat dan menyalahkan semuanya pada ketidakmampuan diri sendiri dan tidak pada diri Jones. Seorang bekas anggota jemaat yang bernama Neva Sly mengatakan: ‘Kami selalu menyalahkan diri kami sendiri jikalau ada yang tidak beres.’ [267] Bahasa aneh dan sumbang mulai berkembang di dalam gereja itu, di mana ‘Sumber Alasan’ adalah apapun yang dikatakan Jim Jones. [268] Akhirnya, dengan kemahiran berpidato, penipuan, dan bahasa yang muluk, Jones bisa meyakinkan bahwa kematian sebenarnya adalah ‘langkah selanjutnya’ dan dengan ini dia menutupi tindakan putus asa bunuh diri sebagai tindakan ‘bunuh diri revolusioner’ yang terhormat dan berani. Para jemaatnya percaya pada kata2nya.”
[267] Winfrey, C. Why 900 died in Guyana. New York Times Magazine, February 25, 1979.
[268] Mills, J. Six years with God. New York: A & W Publishers, 1979


Hal inipun persis dengan yang terjadi pada Islam, di mana Muslim secara sukarela menyalahkan diri sendiri jikalau ada yang tidak beres dan bersyukur pada Allâh untuk semua hal yang baik. Kita juga bisa melihat kesamaan yang tepat antara pengikut Muhammad dan Jim Jones di saat mereka menghadapi kematian.

Kata asli “kami cinta kematian sama seperti kau cinta kehidupan” yang dikatakan Osama bin Laden pada suratnya yang terkenal untuk Amerika Serikat sebenarnya terdapat dalam kejadian Perang Qadisiyya di tahun 636 ketika panglima tentara Muslim yakni Khalid ibn Al-Walid mengirim pesan surat dari Kalifah Abu Bakr kepada panglima Persia bernama Khosrau. Suratnya menyatakan: “Kau (Khosrau dan orang2nya) harus masuk Islam, dan dengan begitu nyawamu selamat, karena jika tidak, kau harus tahu bahwa aku datang padamu dengan tentara2 yang cinta kematian, seperti kau cinta kehidupan.” Kalimat ini terus dikutip di khotbah2 Muslim modern, di koran2 dan di buku2 Islam.

Apa sih awalnya yang menyebabkan orang2 tertarik bergabung di gerejanya Jim Jones? Mari kita bahas pertanyaan ini dan membandingkannya dengan orang2 yang baru masuk Islam (mualaf).

Osherow menyebut daya tarik Jim Jones terdapat pada kepribadiannya yang berkharisma dan keahliannya dalam berkhotbah, juga ditambah dengan keahliannya dalam memanfaatkan orang yang mudah tertipu. Dengan janji2 dan penampilannya yang diatur rapih untuk memikat setiap penonton, dia dengan mudah memenangkan hati dan angan2 mereka. Kata2 Cicero tepat dalam menggambarkan hal ini: “jago khotbah dapat membuat hal yang mustahil dipercaya orang.”

Muhammad juga sadar betul akan pengaruh khotbah. Dia percaya bahwa “dalam kemahiran berkhotbah terdapat sihir” [262] dan sering berkata: “Dalam khotbah2 yang diucapkan dengan mahir terdapat pengaruh sihir" (artinya, beberapa orang tidak mau melakukan sesuatu dan pengkhotbah yang hebat mengutarakan hal itu dan kemudian orang2 mau melakukannya setelah mendengar khotbah).” [263]
[262] Sunnan Abu Dawud; Book 41, Number 4994
[263] Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 76


Di hadis lain, dia membual, “Aku telah diberi kunci2 khotbah yang berpengaruh dan diberi kemenangan melalui teror." [264] Dia menggunakan pengaruh khotbah dan bujukan, juga teror dan ancaman demi keuntungan dirinya sendiri.
[264] Sahih Bukhari Volume 9, Book 87, Number 127

Osherow menulis: “Anggota Kenisah Rakyat terdiri dari masyarakat yang butuh bantuan dan terlupakan: orang2 miskin, kulit hitam, para jompo dan beberapa pecandu obat bius dan bekas narapidana.” [265]
[265] Winfrey, C. Why 900 died in Guyana. New York Times Magazine, February 25, 1979.

Bandingkan hal ini dengan pengikut2 pertama Muhammad di Mekah. Mereka kebanyakan adalah kaum miskin, budak2, anak2 muda pemberontak, dan beberapa wanita yang butuh perhatian. Dia berkhotbah pada para budak agar mereka melarikan diri dari majikannya dan hijrah; dia mengatakan pada kaum muda untuk tidak mentaati orang tua mereka dan ikut dia saja; dia berbicara tentang kesamaan sosial dan persaudaraan antar sesama Muslim; dia menjanjikan setiap orang hadiah besar di alam baka dan kekayaan di dunia fana, kekayaan yang nantinya datang melalui penjarahan.

Tiga sejarawan utama Muslim yakni Tabari, Ibn Sa’d dan Ibn Ishaq setuju bahwa hanya beberapa gelintir orang saja yang memeluk Islam secara sukarela. Kebanyakan orang lainnya memeluk Islam karena rasa takut atau karena serakah ingin dapat bagian harta jarahan. Meskipun demikian, apapun alasannya, mereka semua memenuhi tujuan Muhammad untuk menundukkan semua orang pada Islam.

Jim Jones percaya: “Keluarga adalah bagian dari sistem musuh, karena mereka merugikan pengabdian total seseorang kepada “Alasan Utama”. [256] “Alasan Utama” ini tentunya tak lain daripadanya dirinya sendiri. Jadi seorang yang dipanggil menghadap jemaat untuk dihukum bisa menduga anggota keluarganya sendirilah yang jadi pengecam utama dan paling keras. [257]
[256] Mills, J. Six years with God. New York: A & W Publishers, 1979.
[257] Cahill, T. In the valley of the shadow of death. Rolling Stone. January 25, 1979.


Muhammad memecah-belah keluarga dengan menyatakan bahwa Muslim pertama-tama harus setia terhadap Allâh dan Rasulnya dan tidak boleh taat pada orangtua mereka jika mereka menghalangi hubungan Muslim dengan Islam. Ayat Qur’an berikut menjelaskan hal ini:

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [258]
[258] Qur’an, Sura 29, Ayat 8

“Mengapa tidak banyak orang yang keluar dari aliran itu?” tanya Osherow. “Begitu masuk Kenisah Rakyat, orang2 tidak boleh pergi; yang tetap pergi dibenci,” jelasnya. “Tiada yang lebih menjengkelkan Jim Jones daripada hal ini; orang2 yang meninggalkannya menjadi sasaran kebenciannya dan disalahkan atas segala masalah yang terjadi. Seorang anggota jemaat ingat setelah beberapa anggota remaja meninggalkan Kenisah Rakyat, ‘Kami sangat membenci ke delapan orang itu karena kami tahu suatu hari mereka akan mencoba membom kami. Maksudku, Jim Jones membuat kami benar2 percaya akan hal ini.’” [259]
[259] Winfrey, C. Why 900 died in Guyana. New York Times Magazine, February 25, 1979.

Muslim juga diajarkan cara berpikir yang sama. Seorang Muslim sangat membenci murtadin. Dalam Islam, murtadin, pemikir merdeka (freethinkers), dan pengritik diancam dan dibunuh. Muslim yang murtad dituduh melakukan penghujatan dan mereka dihina atau dibunuh.

Osherow menulis: “Sikap menentang menjadi tindakan riskan, dan, bagi kebanyakan anggota, keuntungan menentang juga tidak jelas. Melarikan diri juga tidak mungkin. Melawan terlalu berbahaya. Karena tidak ada pilihan lain yang tampaknya lebih baik, maka tunduk jadi sikap yang paling aman. Kekuasaan yang diterapkan Jim Jones membuat jemaat Kenisah Rakyat taat. Mereka tetap jadi anggota sebab sukar untuk menentang.” Qur’an pun dengan jelas menyatakan bahwa Muslim tidak boleh murtad.

Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. .... Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. (Q. 47:23-25)

Di sini Muhammad menjanjikan hukuman illahi bagi murtadin di alam baka. Dia juga mengumumkan hukuman bagi murtadin di dunia. Bukhari melaporkannya di hadis berikut:
Rasul Allâh berkata, “Darah seorang Muslim yang bersaksi bahwa tiada yang layak disembah selain Allâh dan bahwa aku adalah rasulnya, tidak boleh dikucurkan selain karena tiga hal: dalam Qisa melakukan pembunuhan, orang yang telah menikah melakukan zinah dan yang murtad dan meninggalkan kaum Muslim.” [260]
[260] Sahih Bukhari Volume 9, Book 83, Number 17

Hadis lain menyatakan bahwa beberapa murtadin dibawa menghadap Ali dan dia membakar mereka. Ketika berita ini didengar Ibn ‘Abbas, dia berkata, “Jika aku berada di tempatnya, aku tidak akan membakar mereka, sebagai yang dilarang Rasul Allâh yang berkata, ‘Jangan hukum orang dengan hukuman Allâh (api).’ Aku akan membunuh mereka berdasarkan perkataan Rasul Allâh, ‘Barangsiapa yang meninggalkan agama Islam, bunuh dia.’” [261]
[261] Sahih Bukhari Volume 9, Book 84, Number 57

Sama seperti yang dialami beberapa jemaat Kenisah Rakyat, Muslim2 awal pun menyadari aturan ibadah kepercayaannya dan tindakan2 pemimpin mereka tidaklah konsisten. Jim Jones bersetubuh dengan banyak wanita di perkumpulannya dan dia tidak malu2 melakukannya. Muhammad juga melakukan banyak hal yang tentunya mengejutkan orang banyak, bahkan juga pengikutnya orang Arab yang bermoral rendah.

Di satu hadis Aisha berkata: “Aku memandang rendah para wanita yang menyerahkan diri mereka pada Rasul Allâh dan berkata, “Dapatkan wanita menyerahkan diri mereka (pada seorang pria)?” Tapi ketika Allâh menyatakan: “Kau (wahai Muhammad) dapat menunda (giliran istri2mu), dan kau dapa menerima siapapun yang kau kehendaki; dan kau tidak bersalah jika kau mengundang dia yang gilirannya kau tunda,” (Q.33:51) Aku berkata (pada sang Nabi), ‘Aku merasa Tuhanmu cepat memenuhi kehendak dan nafsumu.’” [253]
[253] Sahih Al-Bukhari, Volume 6, Book 60, Number 311

Sudah jelas Aisha tidak hanya cantik tapi juga cerdas. Memang bisa jelas terlihat di banyak kejadian tuhannya Muhamad datang segera menolong dan mengijinkannya untuk melakukan apapun yang disukainya.

Muhammad melanggar beberapa norma masyarakat dengan menikahi Zainab, yang adalah menantunya sendiri. Dia berhubungan seks dengan Mariyah - pelayan istrinya – ketika istrinya (Hafsa) sedang tidak ada di rumah. Dia berusia 51 tahun ketika dia menikahi Aishya yang berusia 6 tahun dan menidurinya ketika Aisha baru berusia 8 tahun 9 bulan dan masih bermain dengan boneka2nya. Muhammad mengaku dapat ‘wahyu2’ terbaik ketika tidur di bawah satu selimut dengan anak perempuan kecil ini. Di puncak kekuasaannya, Muhammad melihat anak perempuan balita dan mengatakan pada orangtua anak itu bahwa dia ingin mengawininya jikalau anak itu sudah tumbuh besar. Untunglah bagi anak itu, Muhammad mati tak lama setelah mengatakan hal itu. Muhammad mengambil wanita2 remaja sebagai hadiah2 pribadi dari Allâh tatkala melakukan penyerangan2 dan menghabisi suku2 dan membunuhi sanak keluarga mereka. Dia menjadikan para wanita remaja itu sebagai budak2 seks di haremnya.

Tentu saja, banyak Muslim awal yang heran andaikata Muhammad itu rasul tuhan, mengapa tindakannya sangat jauh dari suci. Kita tidak bisa menyamaratakan bahwa Arab2 kuno tidak punya nurani sama sekali dan tidak tahu apa yang dilakukan Muhammad adalah salah. Akan tetapi, jika mereka ragu, mereka tidak berani menyatakan hal itu. Muslim takut akan ancaman dan hukuman. Mereka yang tidak setuju cepat2 disingkirkan.

Di satu kejadian, Muslim mujahirin (Muslim suku Quraish yang hijrah dari Mekah ke Medina sebagai pendatang), berkelahi dengan orang2 Medina ketika menjarah sebuah kota. Abdullah ibn Ubayy, orang Medina yang menyelamatkan Banu Nadir dari niat pembantaian Muhammad, merasa marah. Dia berkata, “Apakah kalian sebenarnya melakukan hal ini? Mereka bertengkar dengan kepentingan kita, mereka berjumlah lebih banyak di tempat kita sendiri, dan tiada yang begitu cocok bagi kita dan gelandangan Quraish seperti yang dikatakan orang kuno ‘Beri makan anjing dan anjing itu akan melahapmu.’ Demi Allâh, jika kita kembali ke Medina, yang kuat akan mengusir yang lemah.” Lalu dia pergi ke orang2nya yang berada di sana dan berkata, “Inilah yang kau lakukan terhadap dirimu. Kau biarkan mereka menguasai tanahmu, dan kau bagi kekayaanmu dengan mereka. Jikalau kau simpan kekayaanmu bagi dirimu, maka mereka sudah pergi ke tempat lain.” Ketika berita ini didengar Muhammad, dia berkeputusan untuk membunuh Ibn Ubayy. Tatkala mendengar hal ini, putra Ibn Ubayy yang telah masuk Islam datang kepada Muhammad dan berkata padanya, “Kudengar kau ingin membunuh ‘Abdullah b. Ubayy karena mendengar apa yang diucapkannya. Jika kau harus melakukan hal itu, maka perintahkanlah aku untuk melakukan hal itu dan aku akan bawah kepalanya, karena suku al-Khazraj tahu tiada seorang pun yang lebih berbakti kepada ayahnya selain aku. Aku takut jika kau memerintahkan orang untuk membunuhnya, jiwaku tidak akan mengijinkan aku melihat pembunuh ayahku berjalan diantara orang2 dan aku akan bunuh dia, dan karenanya aku membunuh orang beriman (Muslim) gara2 orang tak beriman (kafir), dan akibatnya aku akan masuk neraka.” [254]
[254] Ibn Ishaq. Sirat Rasul Allah.

Abdullah ibn Ubayy adalah orang besar bagi masyarakatnya, dan orang2 Medina menghormatinya. Ini adalah keadaan yang sulit. Memerintahkan seorang anak laki untuk membunuh ayah sendiri, yang orang penting seperti ibn Ubbay, dapat mengakibatkan keadaan yang tidak merugikan bagi Muhammad. Bagaimana jika anak itu hanya ingin menguji kebenaran berita Muhammad ingin membunuh bapaknya dan mengakibatkan anak ini melawan Muhammad untuk membela bapaknya? Muhammad dengan cerdiknya menolak tawaran dan membiarkan pertikaian itu berlalu. Akan tetapi, perkataan anak laki itu dipuji-puji sejarawan Muslim sebagai contoh iman yang sejati. Ini adalah tingkat pengaruh yang dituntuk Muhammad dari pengikutnya. Dia membuat orang2 saling memata-matai dan menciptakan suasana penuh ketakutan di mana segala benih penentangan bisa dicabut dari akarnya.

Kejadian menarik bisa dilihat pada saat Abdullah ibn Ubayy meninggal. Putra Abdullah ibn Ubayy memohon Muhammad untuk berdoa di pemakaman ayahnya. Karena pentingnya posisi ibn Ubayy, Muhammad merasa harus memenuhi permintaan putra ibn Ubayy. Ketika dia berdiri untuk berdoa bagi almarhum ibn Ubayy, Omar ingat Muhammad tidak mau berdoa di kuburan ibunya sendiri. Dia memegang baju Muhammad dan berkata: “Rasul Allâh, akankah kau berdoa bagi orang ini, sedangkan Allâh melarangmu berdoa bagi yang tidak beriman?” Dia menjawab: “Allâh telah memberikan pilihan sewaktu dia berkata: Mintalah ampun bagi mereka, atau jangan mintakan ampun bagi mereka; jika kau minta ampun bagi mereka sebanyak tujuh puluh kali, maka tuhan tidak akan mengampuni mereka (Q.9:80) dan aku akan memberi tambahan pada tujuh puluh kali minta ampun.” Sungguh ironis bahwa Muhammad memanggil ibn Ubayy “munafik” padahal julukan itu paling cocok bagi dirinya sendiri.

Sama seperti Jim Jones, Muhammad juga menciptakan suasana teror sehingga yang meragukan dirinya tidak berani menyatakan pikirannya. Dia melarang pertanyaan2 yang susah dan jadi sangat marah jikalau ada yang melakukannya.

Hadis berikut adalah contoh di mana Muhammad marah pada mereka yang berani mempertanyakan keputusannya. Hal ini terjadi ketika dia membagi-bagi semua jarahan yang dirampas di Perang Hunain kepada para pemimpin Mekah untuk “melunakkan hati mereka” dan “membuat Islam terasa manis di mulut2 mereka.” Pengikutnya yang membantunya berperang tidak kebagian jatah apapun. Seorang berkata: “Wahai Rasul Allâh! Bersikaplah adil.” Sang Nabi berkata, “Awas kamu! Siapa yang bisa berlaku adil jika aku tidak? Aku akan celaka jika aku tidak berbuat adil.” Omar berkata, “Wahai Rasul Allâh! Ijinkan aku memancung kepalanya.” [255]
[255] Sahih Bukhari Volume 4, Book 56, Number 807

Orang yang bertanya ini berasal dari suku Banu Tamim. Masyarakat Banu Tamim belum jadi Muslim. Mereka bergabung bersama Muhammad karena mengharapkan harta jarahan belaka. Tapi setelah Muhammad menang perang, dia tidak merasa perlu lagi memenuhi janjinya. Orang dari suku Tamim ini tidak kenal Muhammad dan perangainya. Pengalaman ini jelas membuka matanya dan orang2 lain di sekitarnya. Pelajaran yang diambil adalah tidak seorang pun yang boleh mempertanyakan keputusan Muhammad meskipun tidak adil sekalipun. Siapapun yang mempertanyakannya akan mendapat murka Muhammad dan dapat terancam dibunuh. Hanya yang membebek saja yang selamat. Dalam suasana seperti ini, kebenaran selalu dikorbankan. Apakah kaum politikus kiri jaman modern yang mendukung Muslim menghabisi nilai2 Yudeo-Kristen di dunia Barat dapat mengambil pelajaran? Tentunya dapat, tapi apakah pelajaran ini mendukung mereka?

Osherow melanjutkan: “Keadaan Kenisah Rakyat jadi sedemikian menekan, isi khotbah Jim Jones dan perilakunya sangat bertentangan, sehingga tidak mungkin jemaatnya tidak bisa melihat hal ini dan mempertanyakan gerejanya. Tapi keraguan ini ditekan. Tiada yang mendukung ketidaktaatan terhadap perintah2 sang pemimpin dan tiada kawan yang menyatakan ketidaksetujuan dengan mayoritas jemaat. Yang tidak taat dan menentang dengan cepat dihukum. Mempertanyakan kata2 Jones atau bahkan keluarga dan teman2nya saja sudah berbahaya. Orang yang menyadap pembicaraan dengan cepat melaporkan segala pertentangan, dan bahkan anggota2 keluarga sendiri pun melakukan hal ini.”

Sama seperti Jones, Muhammad bergantung kepada para penyadap, seperti yang dikatakan Osherow: “Ini tidak hanya menghilangkan sikap menentang, tapi juga menghilangkan sikap solidaritas dan kesetiaan orang terhadap sanak keluarga dan kawan2 mereka sendiri.”

Dalam Islam, para Muslim diminta untuk mengawasi dan memperingatkan satu sama lain jika ada yang keluar dari “jalur yang benar”. Hal ini disebut Amr bil ma’roof (perintah akan kebenaran) dan Nahi min al munkar (pelarangan akan kesalahan). Akan tetapi, yang benar dan yang salah bukanlah hal yang sama yang diakui orang pada umumnya dan yang sesuai dengan Hukum Emas (perlakukan orang lain seperti dirimu sendiri ingin diperlakukan). Yang benar adalah yang diijinkan sang Nabi dan yang salah adalah yang dilarang sang Nabi. Dengan kata lain, setiap orang adalah “Abang Besar” dan pengamat orang lain dan harus menegur untuk membenarkan Muslim lain dan jika perlu melaporkan mereka ke ketua Muslim. Setelah terjadinya Revolusi Islam di Iran, anak2 diperintahkan untuk melaporkan segala kegiatan tidak Islam yang dilakukan orangtua mereka. Beberapa anak muda dilaporkan oleh ayah mereka sendiri kepada Pemerintah dan mereka lalu dihukum mati. Penyampai laporan lalu dipuji-puji dan ditinggikan agar yang lain mau berbuat sama.

Osherwo berkata: “Jones berkhotbah bahwa semangat kekeluargaan harus dibentuk dalam gerejanya, dan dia menekankan pengabdian masing2 anggota jemaat ditujukan bagi sang “Bapak” (dirinya sendiri).”

Dalam islam, Muslim juga harus bersikap seperti saudara terhadap Muslim lain, tapi pertama-tama mereka harus setia dulu pada Muhammad, atau, seperti yang dikatakannya berkali-kali, pada “Allâh dan rasulnya.” Di saat seorang Muslim murtad, Muslim lain yang bersikap sebagai saudaranya tidak ragu lagi untuk menyembelih tenggorokannya.

Kesamaan antara Muhammad dan Jim Jones benar2 nyata. Jangan2 yang satu meniru yang lain. Sudah jelas bahwa semua tindakan mereka merupakan pernyataan pikiran gila penderita narsisis. Semua kebijaksanaan politis totalitarian, dari Nazisme sampai fasisme, dari komunisme sampai Islam, adalah aliran sesat dan mengandung sifat yang sama seperti yang dijabarkan George Orwell dalam novelnya yang berjudul Nineteen Eighty Four (1984).

Menurut Osherow, ketaatan mutlak ini tampak jelas berkurang jika ada sejumlah kecil orang2 yang menolak taat. “Riset menunjukkkan,” tulisnya, “bahwa hadirnya orang2 yang menolak taat ternyata jauh mengurangi ketaatan kebanyakan orang dalam riset Milgram [248]. Secara sama Asch menunjukkan bahwa adanya satu orang yang menyatakan pendapat berbeda dari kebanyakan orang akan membuat orang2 pun jadi cenderung tidak mudah setuju, bahkan jikalau pendapat satu orang itu tidak benar.
[248] Milgram S. Hal2 yang melepaskan diri dari tekanan suatu kelompok. Journal of personality and Social Psychology, 1965, 1, 127-134.

Baik Muhammad dan Jim Jones sangat tidak suka pada orang2 yang menentang. Mereka menuntut kesetiaan utama dan mutlak sedemikian rupa sehingga keinginan untuk bertanya atau mengritik mereka merupakan hal yang tidak terpikirkan. Muhammad memaafkan mereka yang memeranginya jika mereka menerima Islam dan kekuasaannya. Hal ini dia lakukan pada saudara sepupunya yakni Abu Sofyan. Setelah Muhammad menaklukkan Mekah, dia bahkan lalu menunjuk Abu Sofyan untuk memerintah Mekah. Tapi Muhammad tidak mengampuni mereka yang menolak dan meninggalkannya. Banyak orang yang dibunuh atas perintahnya hanya gara2 alasan sepele seperti mereka tidak setuju dengannya atau menghinanya.

Inilah sebabnya mengapa dia sangat takut akan penentangan dan mengapa pengikut2nya tidak bersikap toleran pada yang menentang Islam. Hal ini juga alasan mengapa aku yakin bahwa jika suara2 murtadin didengar, maka Muslim lain pun akan jadi berani dan kritik terhadap Islam tidak akan terbendung lagi.

Jeanne Mills menjadi jemaat Kenisah Rakyat selama enam tahun dan punya kedudukan tinggi tapi lalu meninggalkan aliran itu. Dia menulis: “Ada hukum tak tertulis tapi dimengerti sepenuhnya di gereja (Kenisah Rakyat) yang sangat penting: Tidak ada seorang pun yang boleh mengritik sang Bapak, istrinya, dan anak2nya.” [250]
[250] Mills, J. Six years with God. New York: A & W Publishers, 1979.

Bukankah hal ini terjadi pula pada Muhammad, keluarganya dan sahabat2nya? Dr. Yunis Sheikh, yang adalah seorang profesor perguruan tinggi di Pakistan, menyatakan bahwa kedua orangtua Muhammad bukanlah Muslim. Hal ini masuk akal karena mereka mati ketika Muhammad masih anak2 dan dalam hadis dikatakan Muhammad mengira mereka masuk neraka. Tapi ternyata komentar Dr. Sheikh membuat mahasiswa2nya marah, dan menuduh dia menghina orangtua nabi junjungan mereka dan melaporkan hal ini kepada imam. Akibatnya Dr. Sheikh dituntut di pengadilan karena melakukan penghujatan dan menghukumnya dengan hukuman mati. Dia dibebaskan dari penjara setelah beberapa tahun karena banyak protes dari penjuru dunia.

Di bulan September, 2006, Mohammed Taha Mohammed Ahmed, yang adalah ketua editor surat kabar swasta Sudan bernama Al-Wifaq, diculik sekelompok Muslim sejati. Dia dihakimi dengan penuh hinaan sebelum akhirnya tenggorokannya disembelih sama seperti orang menyembelih unta, dan lalu tubuhnya dipotong-potong. Dia dituduh menghujat karena korannya menerbitkan artikel dari internet yang mempertanyakan orang tua Muhammad. Yang dilakukan Muhammad Taha yang malang ini hanyalah mengutip beberapa bagian buku dan menulis bantahannya. [251]
[251] http://www.news24.com/News24/Africa/New ... 54,00.html

Jika kau hidup di negara Islam, kau bisa dihukum mati karena berani mengritik Islam, Muhammad, dan sahabat2nya. Jika kau hidup di negara non-Muslim, kau bisa dibunuh meskipun kau sendiri bukan Muslim. Pembuat film dari Belanda yang bernama Theo Van Gogh terlambat menyadari hal ini ketika dia terguling jatuh di atas genangan darahnya setelah ditembak dan ditusuki oleh seorang Muslim. Dosa Van Gogh adalah membantu murtadin Ayan Hirshi Ali membuat film tentang wanita dalam Islam.

Di bulan Juli, 1991, Ettore Caprioli yang adalah penerjemah buku Satanic Verses (Ayat2 Setan oleh Salman Rushdie) ke dalam bahasa Italia, diserang dan terluka berat. Hitoshi Igarishi – profesor sastra dan pengamat budaya Islam yang menerjemahkan buku itu ke dalam bahasa Jepang – dibunuh di Tokyo. William Nygaard, penerjemah buku itu ke dalam bahasa Norwegia, juga ditusuk pisau.

Pesannya sudah jelas yakni melakukan teror sebanyaknya agar tiada seorang pun yang berani menentang Islam. Deborah Blakey adalah anggota senior Kenisah Rakyat yang akhirnya mampu melarikan diri. Dia bersaksi: “Semua sikap tidak setuju dengan perintah Jim Jones dianggap sebagai ‘pemberontakan’… Meskipun aku merasa sangat sedih dengan yang terjadi, aku takut berkata apapun karena aku tahu semua orang yang berbeda pendapat akan mendapat murka Jim Jones dan pengikutnya.” [252]
[252] Blakey, D. Affidavit: San Francisco. June 15, 1978.

Osherow menjelaskan: “Jika kau menodongkan pistol ke kepala seseorang, kau sanggup menyuruh orang itu berbuat apapun. Jemaat Kenisah Rakyat selalu hidup dalam ketakutan akan hukuman berat, pemukulan2 brutal, ditambah dengan hinaan di muka umum karena melakukan pelanggaran ringan atau tak sengaja. Jim Jones menggunakan ancaman hukuman berat untuk menegakkan disiplin dan ketaatan mutlak yang dituntutnya. Dia melakukan hal ini agar jemaatnya tidak berontak dan menolaknya.”

Muslim terus-menerus hidup dalam ancaman hukuman berat. Aku telah menerima ribuan e-mail dari Muslim2 yang marah dan semuanya punya pesan yang sama yakni aku akan masuk neraka karena berani mengritik Islam. Mereka tidak menantang pendapatku; mereka tidak mengecam logikaku, tapi hanya mengancamku dengan hal yang paling menakutkan bagi mereka – Neraka. Dengan membaca beberapa ayat Qur’an, dapat diketahui dari mana datangnya rasa takut ini. Para Muslim dibesarkan dengan ketakutan akan Neraka dan hukuman bagi yang berani mempertanyakan otoritas Muhammad sungguh menakutkan bagi mereka.

Rasa takut ini tidak terbatas pada ancaman rohani saja. Hukuman badani juga termasuk bagian dari Islam. Di madrasah2, anak2 dipukuli kalau melanggar hukum, dan di beberapa kejadian, bahkan dirantai. Pemukulan tidak hanya diterapkan kepada anak2 saja, tapi orang dewasa pun dipukuli, dipecuti di muka umum, dihina, dicaci, atau dirajam sampai mati karena melanggar hukum Islam.

Banyak hukum yang melarang segala bentuk pemberontakan dan kemandirian. Para pengritik, pemikir merdeka, pembaharu, dan murtadin harus dibunuh. Bahkan mempertanyakan ajaran Islam saja tidak diperbolehkan! Inilah satu2nya cara untuk mempertahankan kepalsuan Islam yang menuntut iman buta yang hanya dapat dibentuk melalui rasa takut dan kebodohan.

Osherow berkata: “Tapi orang yang berkuasa tidak perlu harus mengancam secara terang2an agar orang2 tunduk melakukan tuntutannya, dan hal ini dibuktikan melalui riset kejiwaan sosial. Berdasarkan percobaan2 Milgram [247], secara tak terduga, sejumlah besar orang taat pada perintah2 seseorang dan hal ini dengan kuat mempengaruhi orang lain untuk taat pula.”
[247] Milgram, S. Penelitian sikap taat. Journal of Abnormal and Social Psychology, 1963, 67, 371-378.

Osherow menulis: “Tapi di tahun 1978 ketika anggota2 keluarga jemaat Kenisah Rakyat khawatir dan meminta politikus negara Leo Ryan menyelidiki aliran kepercayaan itu, Ryan dan para wartawan yang ada bersamanya menyaksikan kebanyakan jemaat memuji tempat itu, menyatakan bersuka cita berada di tempat itu dan ingin tetap tinggal di situ. Akan tetapi, dua keluarga, berhasil menyelipkan pesan kepada Ryan bahwa mereka ingin meninggalkan aliran itu dan turut pergi bersamanya. Ketika kelompok Ryan dan dua keluarga yang membelot itu hendak naik pesawat2 terbang, mereka diserang mendadak dan ditembaki sampai lima orang, termasuk Ryan, meninggal. Setelah itu Jim Jones mengumpulkan jemaatnya dan memerintahkan mereka minum air beracun dan ‘mati dengan terhormat’."

Rekaman2 dari pita suara tentang kejadian akhir menunjukkan bahwa para jemaat, dengan beberapa perkecualian, secara sukarela minum racun dan meminumkannya pula kepada anak2 mereka. Khotbah dan janji2 yang diucapkan Jim Jones terdengar serupa bagi mereka yang mengetahui isi Qur’an. Seorang wanita protes tapi jemaat2 menyuruhnya diam dan setiap orang menyatakan kesiapan mereka untuk mati.

Tulisan berikut berasal dari rekaman pita suara. Isinya mengejutkan, tapi menjelaskan inti fanatisme.

Jim Jones: Aku telah mencoba yang terbaik untuk memberimu kehidupan yang layak. Tapi meskipun aku telah mencoba, beberapa orang dengan kebohongan mereka, membuat hidup kita jadi mustahil. Jika kita tidak bisa hidup dalam damai maka lebih baik mati dalam damai. (Tepuk tangan)…. Kita telah dikhianati… Yang akan terjadi di sini dalam waktu beberapa menit lagi adalah salah seorang di pesawat terbang itu akan menembok pilot pesawat – aku tahu itu. Aku tidak merencakan hal itu, tapi aku tahu hal itu akan terjadi… Jadi pendapatku adalah yang biasa dilakukan di Yunani kuno, dan menjauh diam2, karena kita tidak bunuh diri – tapi melakukan tindakan revolusioner… Kita tidak bisa kembali.
Wanita Pertama: Aku merasa ada kehidupan, ada harapan.
Jones: Well, semua orang akhirnya harus mati.
Para Jemaat: Betul, betul!
Jones: Apa yang dilakukan orang2 itu, dan apa yang mereka alami akan membuat hidup kita lebih jelek daripada hidup di neraka… Tapi bagiku, kematian bukanlah hal yang menakutkan. Malah hidup ini sebenarnya yang dikutuk. Tidak layak untuk hidup seperti ini.
Wanita Pertama: Tapi aku takut mati.
Jones: Kuyakin kau tidak takut. Kuyakin kau tidak takut.
Wanita Pertama: Kupikir terlalu sedikit yang meninggalkan sehingga 1.200 orang harus menyerahkan nyawa mereka bagi yang pergi… Aku lihat semua bayi2 ini dan kupikir mereka layak untuk hidup.
Jones: Tapi bukankah mereka layak untuk mendapat lebih dari itu? Mereka layak mendapat kedamaian. Kesaksian terbaik yang bisa kita berikan adalah dengan meninggalkan dunia sialan ini. (Tepuk tangan)
Pria Pertama: Sudahlah, mbak... Kita buat hari ini indah. (Applause)
Pria Kedua: Jika kau mengatakan bahwa kami harus mengorbankan nyawa, maka kami siap. (Tepuk tangan)

[Baltimore Sun, 1979]

Terdengar tangisan2 bayi, dan rekaman suara terus berlanjut, dengan Jones memaksa perlunya bunuh diri dan mendorong orang2 untuk melakukan hal ini sepenuhnya:

Jones: Bawa lagi obat2. Sederhana saja! Gampang. Tidak ada akibat kejang2… Jangan takut mati. Kau lihat orang2 di luar sana. Mereka akan menyiksa kita semua…
Wanita Kedua: Tidak perlu khawatir. Semuanya tetap tenang dan mari kita mencoba menenangkan anak2 kita… Mereka tidak menangis kesakitan; tapi hanya merasa pahit saja…
Wanita Ketiga: Tidak ada alasan untuk menangis. Ini adalah hal yang patut kita syukuri. (Tepuk tangan).
Jones: Ayolah, demi Tuhan, selesaikan semua ini... Ini adalah bunuh diri revolusioner. Ini bukan bunuh diri yang merugikan diri. (Suara memuji dan memanggil, "Dad." (Tepuk tangan)
Pria Ketiga: Ayah telah membawa kita sejauh ini. Aku bersedia pergi bersama Ayah...
Jones: Kita harus mati dengan terhormat. Cepat, cepat, cepat! Kita harus cepat... Hentikan semua histeris ini. Mati itu sejuta kali lebih baik daripada hidup beberapa hari lagi… Jika kau tahu apa yang ada di hadapanmu nanti, maka kau akan bersyukur malam ini.
Wanita Keempat: Sungguh senang menjalani perjuangan revolusi ini bersama kalian semua… Ini lebih baik daripada menyerahkan hidupku bagi sosialisme, komunisme dan aku sangat berterima kasih pada Ayah.
Jones: Ambilah nyawa kami... Kami tidak bunuh diri. Kami melakukan bunuh diri revolusioner sebagai tindakan protes terhadap keadaan2 dunia yang tak manusiawi.
[246]
[246] Newsweek, 1978, 1979

Dunia kaget ketika mendengarkan isi rekaman pita suara ini. Tapi pengabdian absolut dan ketaatan membuta, ciri2 aliran sesat, semuanya ada pada Islam. Islam sendiri berarti ketundukan. Muslim harus mengenyahkan kemauan mereka dan menolak apapun, termasuk keluarga mereka sendiri dan hidup mereka untuk membuktikan ketaatan kepada Allâh dan rasulnya. Dalam Qur’an kita baca:
“… maka inginkanlah kematianmu, jika kau memang benar.” (Q.2:94) Di bagian lain Muhammad menantang kaum Yahudi untuk meminta kematian untuk membuktikan bahwa mereka jujur.

Katakanlah: "Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar". (Q. 62:6)

Sudah jelas bahwa berdasarkan pikiran tak waras orang2 narsisis seperti Jim Jones dan Muhammad, ujian ketaatan mutlak adalah meminta jemaatnya untuk mati. Acara2 TV Palestina seringkali menayangkan ibu2 dari pembom bunuh diri yang dengan bangga berkata tentang pengorbanan anak2 mereka dan berharap anak2 mereka yang lain melakukan hal yang sama.