Tolstoy berkata, “Baik untung maupun buntung tergantung pada bagaimana seseorang melihat kenyataan terhadap cara hidupnya salah tapi mampu mengelabui diri sendiri agar tidak menganggap nasibnya merana.” [281]
[281] The Kreutzer Sonata

Jim Jones menciptakan suasana dominasi dan pengontrolan total. Osherow menulis: “Dengan mengamati ketaatan dan pengaturan suasana di Jonestown, maka akan diketahui mengapa orang2 bertindak sesuatu. Begitu anggota2 sudah masuk ke dalam Kenisah Rakyat di Jonestown, tidak banyak yang dapat mereka lakukan selain mengikuti apa yang diperintahkan Jim Jones. Mereka di bawah pengaruh kekuasaan mutlak. Mereka tidak punya banyak pilihan, dikelilingi penjaga bersenjata api dan berada di tengah2 hutan, mereka telah menyerahkan passport dan surat2 penting mereka, telah bersumpah kepada Jones, dan percaya keadaan di luar bahkan lebih mengancam. Anggota2 diberi makan yang sangat tidak bergizi, disuruh bekerja keras, kurang tidur, dan terus-menerus dikecam keras oleh Jones atas kesalahan2 mereka. Semua ini menekan mereka untuk tunduk terus pada Jones.”

Kita tahu bahwa Muhammad bersikap kejam terhadap mereka yang meninggalkannya. Jadi bisa dilihat bahwa tidak banyak perbedaan antara jalan pikir Muhammad dan Jones. Akan tetapi, tidak benar kalau dianggap bahwa anggota2 aliran sesat tetap tinggal karena mereka dipaksa tunduk secara fisik saja. Pemaksaan sikap tunduk secara moral jauh lebih berpengaruh dan berlangsung lama. Korbannya jadi penurut, bahkan turut berpartisipasi terhadap penindasan dan perbudakan atas diri mereka sendiri.

Osherow menulis: “Di saat upacara bunuh diri akhir, kebanyakan anggota tidak mungkin lagi untuk bisa melawan atau melarikan diri. Tapi sebenarnya, tidak dapat disangkal bahwa tidak banyak yang ingin melawan dan pergi. Kebanyakan anggota percaya pada Jones. Di sebuah tubuh wanita ditemukan pesan yang tertulis di tangannya di saat2 terakhir yang tertulis: ‘Jim Joneslah satu2nya yang benar.’ [282] Mereka tampaknya telah menerima pentingnya dan bahkan “indahnya” kematian. Sebelum upacara bunuh diri berlangsung, seorang penjaga mendekati Charles Garry, yang adalah salah satu pengacara yang disewa Kenisah Rakyat. Penjaga itu berkata, “Saat yang indah… kita semua akan mati.” [282]
[282] Cahill T. In the valley of the shadow of death. Rolling Stone. January 25, 1979.
[283] Lifton, R. J. Appeal of the death trip. New York Times Magazine, January 7, 1979.


Anggota yang berhasil selamat di Jonestown adalah seorang dokter gigi dan dia diwawancarai tentang terjadinya kematian2 itu. Katanya, “Jika aku berada di sana, aku pasti jadi salah seorang dari mereka yang berbaris untuk minum racun dan merasa bangga melakukannya. Yang kusedihkan adalah: aku tidak ikut mengalami saat akhir itu.” [284]
[284] Gallagher, N. Jonestown: The survivors' story. New York Times Magazine, November 18, 1979.

Sukar untuk menerangkan dan mengerti peristiwa ini. Kenyataannya adalah begitu seorang percaya bahwa pemimpin alirannya adalah utusan illahi, maka mereka dengan suka hati mau jadi partisipan dan pelaku dari pikiran2 pemimpinnya yang tidak waras. Apa yang mendorong orang normal untuk berlaku ekstrim seperti ini? Apakah ini dapat menerangkan sikap fanatik dan pengabdian mutlak dari Muslim2 awal terhadap Muhammad? Apakah para Muslim awal itu melihat Muhammad sama seperti pengikut Kenisah Rakyat melihat Jim Jones? Hadis berikut ini menerangkan fanatisme buta para Muslim awal.

Rasul Allâh datang mengunjungi kami di siang hari dan air wudhu dibawa baginya. Setelah dia melakukan wudhu, air sisa wudhu dibawa oleh orang2 dan mereka mulai membilasi tubuh2 mereka dengan air itu (sebagai berkat). [285]
[285] Bukhari Volume 1, Book 4, Number 187

Di hadis lain kita baca:
Ali punya masalah di matanya, sehingga sang Nabi mengulaskan air ludahnya ke matanya dan memohon Allâh untuk menyembuhkan matanya. Ali seketika sembuh bagaikan tidak pernah sakit sebelumnya. [286]
[286] Bukhari Volume 4, Book 52, Number 253

Semua kebohongan ini dikarang oleh para pengikut Muhammad. Muhammad tidak mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan selalu menderita sakit tubuh, jadi bagaimana mungkin dia sanggup mengobati orang lain dengan ludahnya?

Osherow melaporkan kisah berikut, yang ditulis oleh Jeannie Mills, di mana Jim Jones melakukan muzizat melipatgandakan makanan:

Jumlah orang yang hadir di kebaktian Minggu lebih banyak daripada biasanya, dan karena suatu alasan anggota gereja tidak membawa cukup makanan bagi setiap orang. Sudah jelas bahwa lima puluh orang terakhir di antre barisan tidak akan mendapatkan makanan apapun. Jim mengumumkan, “Meskipun tiada cukup makanan bagi semua orang, aku berkati makanan yang kita miliki dan melipatgandakannya sama seperti yang Yesus lakukan di Alkitab.

Ternyata, hanya beberapa menit setelah dia mengumumkan hal mengejutkan ini, Eva Pugh keluar dari dapur membawa dua nampan berisi ayam goreng. Orang2 bersorak bahagia, terutama yang antre di bagian belakang.

“Ayam goreng yang diberkati” ini rasanya enak luar biasa, dan beberapa orang menyatakan Jim menciptakan ayam terlezat yang pernah mereka makan.

Salah seorang bernama Chuck Beikman dengan bergurau mengatakan kepada beberapa orang yang berdiri di dekatnya bahwa dia melihat Eva menyetir mobil masuk beberapa menit lalu dengan kardus2 dari restoran ayam Kentucky Fried Chicken (KFC). Dia tersenyum ketika berkata,”Orang yang memberkati makanan ini adalah Kolonel Sanders (pendiri KFC).”

Dalam kebaktian petang hari, Jim mengingatkan bahwa Chuck telah mengolok-olok berkat darinya. “Dia berbohong kepada beberapa jemaat di sini dengan mengatakan ayam2 itu datang dari restoran lokal,” kata Jim dengan marah. “Tapi Roh Keadilan menang. Karena kebohongannya, Chuck sekarang berada di WC pria, berharap dia mati saja. Dia sedang muntah2 dan mengalami diare begitu parah sehingga dia tidak bisa bicara!”

Sejam kemudian, Chuck Beikman dengan wajah pucat dan gemetar ke luar dari WC pria dan maju ke depan sambil dituntun oleh salah seorang penjaga. Jim bertanya padanya, “Ada yang ingin kau sampaikan?”

Chcuk memandangnya dengan lemah dan menjawab, “Jim, aku minta maaf akan apa yang kukatakan. Mohon maafkan aku.”

Ketika kami melihat keadaan Chuck, kami bersumpah dalam hati untuk tidak akan pernah mempertanyakan “muzizat” yang dilakukan Jim, setidaknya jangan terang2an. Beberapa tahun kemudian, kami mengetahui bahwa Jim ternyata menaruh racun ringan di sebuah kue dan memberikannya kepada Chuck.”
[269]
[269] Mills, J. Six years with God. New York: A & W Publishers, 1979

Nah, untuk menciptakan “muzizat”-nya, Jones harus bekerja sama dengan Eva. Pertanyaannya sekarang adalah mengapa wanita ini mau saja diajak menipu? Terdapat hadis2 tentang muzizat Muhammad yang serupa.

Di sebuah hadis, seseorang mengaku melihat Muhammad meletakkan tangannya ke dalam sebuah pot dan air lalu memancar darinya, sehingga seluruh tentara melakukan wudhu dari pot itu.

Aku melihat Rasul Allâh ketika sembahyang ‘Asr tiba dan orang2 mencari air untuk wudhu tapi mereka tidak menemukannya. Tak lama kemudian sebuah pot penuh air untuk wudhu dibawa kepada Rasul Allâh. Dia meletakkan tangannya ke dalam pot dan memerintahkan orang2 untuk wudhu dari pot itu. Aku melihat air memancar dari bawah jari2nya sampai semuanya melakukan wudhu (ini adalah salah satu muzizat sang Nabi). [270]
[270] Sahih Bukhari Volume 1, Book 4, Number 170

Di hadis yang lain kita baca bahwa Muhammad melipatgandakan roti; [271] atau dia memecah batu besar dengan sekopnya dan batu itu jadi pasir. [272] Atau, dia memberkati makanan yang tidak cukup untuk empat atau lima orang sehingga makanan itu cukup untuk memberi makan seluruh tentara. [273]
[271] Sahih Bukhari Volume 5, Book 59, Number 428
[272] Sahih Bukhari Volume 5, Book 59, Number 427
[273] Sahih Bukhari, Volume 7, Book 65, Number 293


Terdapat puluhan “muzizat” yang dikisahkan oleh para Muslim dilakukan oleh Muhammad. Beberapa dari (katanya) muzizat2 ini diakui sendiri oleh Muhammad. Ini adalah muzizat2 yang diakuinya sendiri, tapi Muslim tidak meragukan hal ini sama sekali. Salah satu muzizat adalah pengakuannya mengunjungi kota jin. Di hadis lain dia berkata bahwa sekelompok jin di Medina telah memeluk Islam.[274] Di satu dongengnya, dia mengaku bergulat dengan setan besar dan berhasil mengalahkannya.
[274] Sahih Muslim Book 026, Number 5559

"Tadi malam seekor setan besar dari para jin datang padaku dan ingin mengganggu sembahyangku tapi Allâh memampukan diriku untuk menaklukkannya. Aku ingin mengikatnya pada salah satu pilar2 mesjid agar kalian semua bisa melihatnya di pagi hari…” [275]
[275] Sahih Bukhari Volume 1, Book 8, Number 450

Dongeng2 seperti ini merupakan makanan bagi pengikutnya yang mudah ditipu. Ibn Sa’d mengutip kisah yang disampaikan oleh Abu Rafi, salah seorang Muslim, yang berkata suatu hari Muhammad mengunjunginya dan dia memotong kambing untuk makan malam. Muhammad suka bahu kambing dan Rafi menyajikannya. Lalu Muhammad minta satu lagi dan dia pun menyajikannya pula dan setelah habis, dia meminta lagi (Ingat bahwa Muhammad punya nafsu makan besar tak terpuaskan). Abu Rafi berkata, “Aku berikan kau kedua belah bahu. Berapa bahu yang dimiliki seekor kambing?” Muhammad menjawab, “Jika kau tidak mengatakan hal ini, kau sebenarnya bisa menyajikan berapapun bahu kambing yang kuminta.” [276]
[276] Tabaqat, Volume 1, halaman 375

Meskipun pengakuannya luar biasa, tapi kalau ditantang orang2 yang tidak mudah percaya, ternyata Muhammad berulangkali menyangkal bisa melakukan muzizat. Dia mengaku bahwa meskipun semua nabi lain diberi kemampuan untuk melakukan muzizat, satu2nya muzizat yang dimilikinya hanyalah Qur’an.

Sang Nabi berkata, “Tiada nabi diantara para nabi yang diberi muzizat yang mengakibatkan orang2 jadi yakin dan percaya, tapi aku diberikan Wahyu Illahi yang Allâh nyatakan padaku. [277]
[277] Sahih Bukhari Volume 9, Book 92, Number 379

Pertanyaannya adalah mengapa para Muslim dengan sesukanya mengarang dongeng muzizat2 yang dilakukan nabi mereka? Ini pertanyaan yang harus dijawab. Dugaanku adalah begitu Muslim yakin kebenaran Islam, mereka menghalalkan segala cara termasuk berbohong. Orang2 yang beriman teguh yang biasanya berakhlak luhur dan bermoral, ternyata dengan sukarela berbohong, ikut bagian dalam melakukan penipun, menindas orang2 lain, dan kalau perlu bahkan membunuh untuk mendukung agama mereka. “Alasan Utama” jadi begitu penting bagi mereka sehingga pertimbangan lainnya dikesampingkan. Tatkala orang jadi begitu percaya akan kebenaran suatu alasan sehingga mereka bersedia mati untuk itu, maka berbohong ataupun membunuh demi kepentingan alasan itu merupakan hal yang benar baginya. Hasil akhir menentukan tujuan sebenarnya. Filsafat dan ahli matematika Perancis bernama Pascal menulis:
“Orang tidak pernah melakukan kejahatan sedemikian menyeluruh dan suka hati, seperti ketika mereka melakukannya demi keyakinan agama.” Sejarah menyaksikan kebenaran kata2 Pascal. Telah banyak kejahatan dilakukan atas nama agama. Iman membutakan jemaat dan iman buta membutakan semuanya. Otoritas Imam Ghazali [278] dalam Islam tidak dipertanyakan. Dia berkata: “Jikalau mungkin mencapai sebuah tujuan dengan berbohong dan tidak mengatakan kebenaran, maka diperbolehkan berbohong tujuannya adalah benar.” [279]
[279] Abu Hamid Muhammad al-Ghazzâlî (1058-1111) dikenal sebagai Algazel adalah salah seorang ilmuwan Islam yang paling dihormati dalam sejarah pemikiran Islam. Dia lahir di Iran, lalu jadi ahli agama Islam, ahli filsafat, dan mistik. Dia banyak menyumbang bagi perkembangan Sufisme sebagai bagian dari Islam.

Osherow mengutip Kasindrof, “Jim Jones dengan cerdiknya mengatur kesan gerejanya akan menarik jemaat baru. Dia menyusun dengan seksama kesan umum gerejanya. Dia menggunakan surat dan pengaruh politik ratusan anggotanya untuk memuji dan mengesankan para politikus dan wartawan untuk mendukung Kenisah Rakyat, dan juga untuk mengritik dan mengancam penentang2 aliran itu.” [280]
[280] Kasindorf, J. Jim Jones: The seduction of San Francisco. New West, December 18, 1978

Jika sebuah surat kabar menulis sesuatu yang dianggap Muslim menghina Islam, maka para Muslim akan membanjiri kantor2 editor surat kabar itu untuk mengutarakan keluhan mereka. Mereka terus-menerus mengganggu sampai dikeluarkan pernyataan maaf secara resmi dan edisi surat kabar itu ditarik. Bagaimana mungkin kita bisa lupa kerusuhan massa dan pembunuhan orang2 tak bersalah ketika surat kabar Denmark, Jyllands-Posten, menerbitkan beberapa kartun Muhammad. Atau juga ketika Paus Benedict XVI mengutip perkataan kaisar Byzantium yang menanyakan, “Tunjukkan padaku apa hal baru yang dibawa Muhammad?”

Di tanggal 10 November, 2003, Muslim Public Affair Committee atau MPAC di Inggris, yang adalah badan Islam yang serupa dengan CAIR di A.S., mengeluarkan surat amarah pada penerbit Amber Books dengan tuduhan penghujatan. Tuduhan itu ditujukan kepada isi buku yang berjudul The History of Punishment (Sejarah Hukuman) yang diterbitkan oleh Amber Books.

Buku ini bukan buku tentang Islam. Buku ini menyatakan pandangan tentang hukuman2 di berbagai budaya dan masyarakat. Dalam buku ini terdapat satu bab tentang cara2 kuno dalam menghukum, seperti hukuman dalam Alkitab, hukuman Romawi dan Sharia. Terdapat gambar2 di dalamnya, dan salah satunya adalah gambar Muhammad. Muslim segera marah dengan cepatnya. Pihak penerbit menerima ribuan surat amarah dan ancaman sampai mereka ketakutan dan menarik kembali buku itu dari peredaran dan menyatakan ucapan minta maaf resmi kepada pihak Muslim.

Di kasus lain, CAIR berhasil menekan perusahaan film Paramount Pictures untuk mengubah novel Tom Clancy yang berjudul The Sum of All Fears (Inti Sari Segala Ketakutan) untuk mengganti terori Muslim di naskah yang asli dengan neo-Nazi. Sutradara film yakni Phil Alden Robinson dipaksa menulis permintaan maaf kepada CAIR, dan menyatakan bahwa dia tidak berniat untuk menunjukkan citra negatif Muslim dan menambahkan: “Aku harap kau berhasil dalam usahamu menentang segala diskriminasi.”

Ketika di tahun 2002, evangelis Pat Robertson dan Jerry Falwell mengutarakan pendapat mereka tentang Islam, para Muslim di seluruh dunia murka dan membuat onar. Mullah2 Iran mengancam membalas dan beberapa orang Kristen dibunuh, termasuk beberapa sekolah anak2 di Pakistan. Bonnie Penner Witherall, yang adalah suster Kristen berusia, ditembak mati di Sidon, Lebanon.

Osherow menulis: “Jones menanamkan kecurigaan atas semua hal yang bertentangan dengan pesannya, dan menyebut mereka hasil karya musuh. Dengan menghancurkan kesahihan sumber berita, dia memberi penawar pada anggotanya agar tidak terpengaruh oleh kritik2 dari luar.”

Hal ini sama dengan yang terjadi pada Muslim, yang menuduh para pengritik Islam sebagai Zionis dan/atau orang2 yang dibayar oleh “musuh2 Islam.” Siapapun yang berani mengritik Islam akan didatangi Muslim secara pribadi. Bukannya membantah pendapat pengritik Islam, Muslim menyerang secara ad homimem. Mereka menghina kritikannya dan mencoba merendahkannya, tapi tidak mampu menjelaskan argumentasi yang membantah kebenaran kritik itu.

“Di Jonestown,” kritik Osherow, “semua pikiran2 yang bertentangan yang mungkin menimbulkan perlawanan dari pihak anggota dikecam. Para anggota tidak melihat kritik sebagai kenyataan, tapi menganggapnya sebagai tanda mereka kurang beriman dan kurang mengerti.” Ini juga sama dengan yang terjadi pada Muslim. Mereka menyadari hidup mereka bagaikan di neraka dan negara2 mereka tidak karuan, tapi mereka memilih menyalahkan diri sendiri karena kurang bisa menerapkan “Islam yang sejati” sehingga akibatnya hidup mereka penuh derita. Padahal kenyataannya justru Islamlah sumber derita mereka.

Para pemimpin aliran sesat punya pribadi megalomaniak. Baik Jim Jones maupun Muhammad punya ego (keakuan) yang terlalu membengkak. Untuk memikat anggota baru, Jones mengadakan pelayanan masyarakat di berbagai kota. Di selebaran2 yang disebarkan tertulis:
Pendeta Jim Jones… Luar Biasa! Penuh Muzizat! Sukar Dipercaya!
Pelayanan kesembuhan kenabian yang paling unik yang engkau akan pernah saksikan! Saksikan Firman yang hadir diantara kalian!”
[266]
[266] Suicide Cult: The Inside Story of the Peoples Temple Sect and the Massacre in Guyana (201P) by Marshall Kilduff and Ron Javers (1978)

Muhammad juga punya banyak bualan tentang dirinya sendiri. Allâh yang adalah boneka ciptaannya seringkali memujinya sebagai:
Kami mengirim kamu sebagai belas kasihan untuk semua makhluk (Q.21:107)
Dan memang kau (Muhammad) punya moral2 yang luhur. (Q.68:4)
Memang benar Rasul Allâh kau adalah contoh baik untuk diikuti. (Q.33:21)
Sungguh benar inilah kata Rasul yang paling terhormat. (Q.81:19)
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q. 4:65)

Ayat terakhir jelas menunjukkan bahwa Muhammad menuntut ketaatan mutlak dan marah kalau dikritik atau kalau ada yang tidak setuju dengannya.

Osherow menulis: “Anggota jemaat belajar menanggapi hal yang bertentangan antara khotbah muluk Jones dan kerasnya aturan dalam Kenisah Rakyat dan menyalahkan semuanya pada ketidakmampuan diri sendiri dan tidak pada diri Jones. Seorang bekas anggota jemaat yang bernama Neva Sly mengatakan: ‘Kami selalu menyalahkan diri kami sendiri jikalau ada yang tidak beres.’ [267] Bahasa aneh dan sumbang mulai berkembang di dalam gereja itu, di mana ‘Sumber Alasan’ adalah apapun yang dikatakan Jim Jones. [268] Akhirnya, dengan kemahiran berpidato, penipuan, dan bahasa yang muluk, Jones bisa meyakinkan bahwa kematian sebenarnya adalah ‘langkah selanjutnya’ dan dengan ini dia menutupi tindakan putus asa bunuh diri sebagai tindakan ‘bunuh diri revolusioner’ yang terhormat dan berani. Para jemaatnya percaya pada kata2nya.”
[267] Winfrey, C. Why 900 died in Guyana. New York Times Magazine, February 25, 1979.
[268] Mills, J. Six years with God. New York: A & W Publishers, 1979


Hal inipun persis dengan yang terjadi pada Islam, di mana Muslim secara sukarela menyalahkan diri sendiri jikalau ada yang tidak beres dan bersyukur pada Allâh untuk semua hal yang baik. Kita juga bisa melihat kesamaan yang tepat antara pengikut Muhammad dan Jim Jones di saat mereka menghadapi kematian.

Kata asli “kami cinta kematian sama seperti kau cinta kehidupan” yang dikatakan Osama bin Laden pada suratnya yang terkenal untuk Amerika Serikat sebenarnya terdapat dalam kejadian Perang Qadisiyya di tahun 636 ketika panglima tentara Muslim yakni Khalid ibn Al-Walid mengirim pesan surat dari Kalifah Abu Bakr kepada panglima Persia bernama Khosrau. Suratnya menyatakan: “Kau (Khosrau dan orang2nya) harus masuk Islam, dan dengan begitu nyawamu selamat, karena jika tidak, kau harus tahu bahwa aku datang padamu dengan tentara2 yang cinta kematian, seperti kau cinta kehidupan.” Kalimat ini terus dikutip di khotbah2 Muslim modern, di koran2 dan di buku2 Islam.

Apa sih awalnya yang menyebabkan orang2 tertarik bergabung di gerejanya Jim Jones? Mari kita bahas pertanyaan ini dan membandingkannya dengan orang2 yang baru masuk Islam (mualaf).

Osherow menyebut daya tarik Jim Jones terdapat pada kepribadiannya yang berkharisma dan keahliannya dalam berkhotbah, juga ditambah dengan keahliannya dalam memanfaatkan orang yang mudah tertipu. Dengan janji2 dan penampilannya yang diatur rapih untuk memikat setiap penonton, dia dengan mudah memenangkan hati dan angan2 mereka. Kata2 Cicero tepat dalam menggambarkan hal ini: “jago khotbah dapat membuat hal yang mustahil dipercaya orang.”

Muhammad juga sadar betul akan pengaruh khotbah. Dia percaya bahwa “dalam kemahiran berkhotbah terdapat sihir” [262] dan sering berkata: “Dalam khotbah2 yang diucapkan dengan mahir terdapat pengaruh sihir" (artinya, beberapa orang tidak mau melakukan sesuatu dan pengkhotbah yang hebat mengutarakan hal itu dan kemudian orang2 mau melakukannya setelah mendengar khotbah).” [263]
[262] Sunnan Abu Dawud; Book 41, Number 4994
[263] Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 76


Di hadis lain, dia membual, “Aku telah diberi kunci2 khotbah yang berpengaruh dan diberi kemenangan melalui teror." [264] Dia menggunakan pengaruh khotbah dan bujukan, juga teror dan ancaman demi keuntungan dirinya sendiri.
[264] Sahih Bukhari Volume 9, Book 87, Number 127

Osherow menulis: “Anggota Kenisah Rakyat terdiri dari masyarakat yang butuh bantuan dan terlupakan: orang2 miskin, kulit hitam, para jompo dan beberapa pecandu obat bius dan bekas narapidana.” [265]
[265] Winfrey, C. Why 900 died in Guyana. New York Times Magazine, February 25, 1979.

Bandingkan hal ini dengan pengikut2 pertama Muhammad di Mekah. Mereka kebanyakan adalah kaum miskin, budak2, anak2 muda pemberontak, dan beberapa wanita yang butuh perhatian. Dia berkhotbah pada para budak agar mereka melarikan diri dari majikannya dan hijrah; dia mengatakan pada kaum muda untuk tidak mentaati orang tua mereka dan ikut dia saja; dia berbicara tentang kesamaan sosial dan persaudaraan antar sesama Muslim; dia menjanjikan setiap orang hadiah besar di alam baka dan kekayaan di dunia fana, kekayaan yang nantinya datang melalui penjarahan.

Tiga sejarawan utama Muslim yakni Tabari, Ibn Sa’d dan Ibn Ishaq setuju bahwa hanya beberapa gelintir orang saja yang memeluk Islam secara sukarela. Kebanyakan orang lainnya memeluk Islam karena rasa takut atau karena serakah ingin dapat bagian harta jarahan. Meskipun demikian, apapun alasannya, mereka semua memenuhi tujuan Muhammad untuk menundukkan semua orang pada Islam.

Jim Jones percaya: “Keluarga adalah bagian dari sistem musuh, karena mereka merugikan pengabdian total seseorang kepada “Alasan Utama”. [256] “Alasan Utama” ini tentunya tak lain daripadanya dirinya sendiri. Jadi seorang yang dipanggil menghadap jemaat untuk dihukum bisa menduga anggota keluarganya sendirilah yang jadi pengecam utama dan paling keras. [257]
[256] Mills, J. Six years with God. New York: A & W Publishers, 1979.
[257] Cahill, T. In the valley of the shadow of death. Rolling Stone. January 25, 1979.


Muhammad memecah-belah keluarga dengan menyatakan bahwa Muslim pertama-tama harus setia terhadap Allâh dan Rasulnya dan tidak boleh taat pada orangtua mereka jika mereka menghalangi hubungan Muslim dengan Islam. Ayat Qur’an berikut menjelaskan hal ini:

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [258]
[258] Qur’an, Sura 29, Ayat 8

“Mengapa tidak banyak orang yang keluar dari aliran itu?” tanya Osherow. “Begitu masuk Kenisah Rakyat, orang2 tidak boleh pergi; yang tetap pergi dibenci,” jelasnya. “Tiada yang lebih menjengkelkan Jim Jones daripada hal ini; orang2 yang meninggalkannya menjadi sasaran kebenciannya dan disalahkan atas segala masalah yang terjadi. Seorang anggota jemaat ingat setelah beberapa anggota remaja meninggalkan Kenisah Rakyat, ‘Kami sangat membenci ke delapan orang itu karena kami tahu suatu hari mereka akan mencoba membom kami. Maksudku, Jim Jones membuat kami benar2 percaya akan hal ini.’” [259]
[259] Winfrey, C. Why 900 died in Guyana. New York Times Magazine, February 25, 1979.

Muslim juga diajarkan cara berpikir yang sama. Seorang Muslim sangat membenci murtadin. Dalam Islam, murtadin, pemikir merdeka (freethinkers), dan pengritik diancam dan dibunuh. Muslim yang murtad dituduh melakukan penghujatan dan mereka dihina atau dibunuh.

Osherow menulis: “Sikap menentang menjadi tindakan riskan, dan, bagi kebanyakan anggota, keuntungan menentang juga tidak jelas. Melarikan diri juga tidak mungkin. Melawan terlalu berbahaya. Karena tidak ada pilihan lain yang tampaknya lebih baik, maka tunduk jadi sikap yang paling aman. Kekuasaan yang diterapkan Jim Jones membuat jemaat Kenisah Rakyat taat. Mereka tetap jadi anggota sebab sukar untuk menentang.” Qur’an pun dengan jelas menyatakan bahwa Muslim tidak boleh murtad.

Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. .... Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. (Q. 47:23-25)

Di sini Muhammad menjanjikan hukuman illahi bagi murtadin di alam baka. Dia juga mengumumkan hukuman bagi murtadin di dunia. Bukhari melaporkannya di hadis berikut:
Rasul Allâh berkata, “Darah seorang Muslim yang bersaksi bahwa tiada yang layak disembah selain Allâh dan bahwa aku adalah rasulnya, tidak boleh dikucurkan selain karena tiga hal: dalam Qisa melakukan pembunuhan, orang yang telah menikah melakukan zinah dan yang murtad dan meninggalkan kaum Muslim.” [260]
[260] Sahih Bukhari Volume 9, Book 83, Number 17

Hadis lain menyatakan bahwa beberapa murtadin dibawa menghadap Ali dan dia membakar mereka. Ketika berita ini didengar Ibn ‘Abbas, dia berkata, “Jika aku berada di tempatnya, aku tidak akan membakar mereka, sebagai yang dilarang Rasul Allâh yang berkata, ‘Jangan hukum orang dengan hukuman Allâh (api).’ Aku akan membunuh mereka berdasarkan perkataan Rasul Allâh, ‘Barangsiapa yang meninggalkan agama Islam, bunuh dia.’” [261]
[261] Sahih Bukhari Volume 9, Book 84, Number 57

Sama seperti yang dialami beberapa jemaat Kenisah Rakyat, Muslim2 awal pun menyadari aturan ibadah kepercayaannya dan tindakan2 pemimpin mereka tidaklah konsisten. Jim Jones bersetubuh dengan banyak wanita di perkumpulannya dan dia tidak malu2 melakukannya. Muhammad juga melakukan banyak hal yang tentunya mengejutkan orang banyak, bahkan juga pengikutnya orang Arab yang bermoral rendah.

Di satu hadis Aisha berkata: “Aku memandang rendah para wanita yang menyerahkan diri mereka pada Rasul Allâh dan berkata, “Dapatkan wanita menyerahkan diri mereka (pada seorang pria)?” Tapi ketika Allâh menyatakan: “Kau (wahai Muhammad) dapat menunda (giliran istri2mu), dan kau dapa menerima siapapun yang kau kehendaki; dan kau tidak bersalah jika kau mengundang dia yang gilirannya kau tunda,” (Q.33:51) Aku berkata (pada sang Nabi), ‘Aku merasa Tuhanmu cepat memenuhi kehendak dan nafsumu.’” [253]
[253] Sahih Al-Bukhari, Volume 6, Book 60, Number 311

Sudah jelas Aisha tidak hanya cantik tapi juga cerdas. Memang bisa jelas terlihat di banyak kejadian tuhannya Muhamad datang segera menolong dan mengijinkannya untuk melakukan apapun yang disukainya.

Muhammad melanggar beberapa norma masyarakat dengan menikahi Zainab, yang adalah menantunya sendiri. Dia berhubungan seks dengan Mariyah - pelayan istrinya – ketika istrinya (Hafsa) sedang tidak ada di rumah. Dia berusia 51 tahun ketika dia menikahi Aishya yang berusia 6 tahun dan menidurinya ketika Aisha baru berusia 8 tahun 9 bulan dan masih bermain dengan boneka2nya. Muhammad mengaku dapat ‘wahyu2’ terbaik ketika tidur di bawah satu selimut dengan anak perempuan kecil ini. Di puncak kekuasaannya, Muhammad melihat anak perempuan balita dan mengatakan pada orangtua anak itu bahwa dia ingin mengawininya jikalau anak itu sudah tumbuh besar. Untunglah bagi anak itu, Muhammad mati tak lama setelah mengatakan hal itu. Muhammad mengambil wanita2 remaja sebagai hadiah2 pribadi dari Allâh tatkala melakukan penyerangan2 dan menghabisi suku2 dan membunuhi sanak keluarga mereka. Dia menjadikan para wanita remaja itu sebagai budak2 seks di haremnya.

Tentu saja, banyak Muslim awal yang heran andaikata Muhammad itu rasul tuhan, mengapa tindakannya sangat jauh dari suci. Kita tidak bisa menyamaratakan bahwa Arab2 kuno tidak punya nurani sama sekali dan tidak tahu apa yang dilakukan Muhammad adalah salah. Akan tetapi, jika mereka ragu, mereka tidak berani menyatakan hal itu. Muslim takut akan ancaman dan hukuman. Mereka yang tidak setuju cepat2 disingkirkan.

Di satu kejadian, Muslim mujahirin (Muslim suku Quraish yang hijrah dari Mekah ke Medina sebagai pendatang), berkelahi dengan orang2 Medina ketika menjarah sebuah kota. Abdullah ibn Ubayy, orang Medina yang menyelamatkan Banu Nadir dari niat pembantaian Muhammad, merasa marah. Dia berkata, “Apakah kalian sebenarnya melakukan hal ini? Mereka bertengkar dengan kepentingan kita, mereka berjumlah lebih banyak di tempat kita sendiri, dan tiada yang begitu cocok bagi kita dan gelandangan Quraish seperti yang dikatakan orang kuno ‘Beri makan anjing dan anjing itu akan melahapmu.’ Demi Allâh, jika kita kembali ke Medina, yang kuat akan mengusir yang lemah.” Lalu dia pergi ke orang2nya yang berada di sana dan berkata, “Inilah yang kau lakukan terhadap dirimu. Kau biarkan mereka menguasai tanahmu, dan kau bagi kekayaanmu dengan mereka. Jikalau kau simpan kekayaanmu bagi dirimu, maka mereka sudah pergi ke tempat lain.” Ketika berita ini didengar Muhammad, dia berkeputusan untuk membunuh Ibn Ubayy. Tatkala mendengar hal ini, putra Ibn Ubayy yang telah masuk Islam datang kepada Muhammad dan berkata padanya, “Kudengar kau ingin membunuh ‘Abdullah b. Ubayy karena mendengar apa yang diucapkannya. Jika kau harus melakukan hal itu, maka perintahkanlah aku untuk melakukan hal itu dan aku akan bawah kepalanya, karena suku al-Khazraj tahu tiada seorang pun yang lebih berbakti kepada ayahnya selain aku. Aku takut jika kau memerintahkan orang untuk membunuhnya, jiwaku tidak akan mengijinkan aku melihat pembunuh ayahku berjalan diantara orang2 dan aku akan bunuh dia, dan karenanya aku membunuh orang beriman (Muslim) gara2 orang tak beriman (kafir), dan akibatnya aku akan masuk neraka.” [254]
[254] Ibn Ishaq. Sirat Rasul Allah.

Abdullah ibn Ubayy adalah orang besar bagi masyarakatnya, dan orang2 Medina menghormatinya. Ini adalah keadaan yang sulit. Memerintahkan seorang anak laki untuk membunuh ayah sendiri, yang orang penting seperti ibn Ubbay, dapat mengakibatkan keadaan yang tidak merugikan bagi Muhammad. Bagaimana jika anak itu hanya ingin menguji kebenaran berita Muhammad ingin membunuh bapaknya dan mengakibatkan anak ini melawan Muhammad untuk membela bapaknya? Muhammad dengan cerdiknya menolak tawaran dan membiarkan pertikaian itu berlalu. Akan tetapi, perkataan anak laki itu dipuji-puji sejarawan Muslim sebagai contoh iman yang sejati. Ini adalah tingkat pengaruh yang dituntuk Muhammad dari pengikutnya. Dia membuat orang2 saling memata-matai dan menciptakan suasana penuh ketakutan di mana segala benih penentangan bisa dicabut dari akarnya.

Kejadian menarik bisa dilihat pada saat Abdullah ibn Ubayy meninggal. Putra Abdullah ibn Ubayy memohon Muhammad untuk berdoa di pemakaman ayahnya. Karena pentingnya posisi ibn Ubayy, Muhammad merasa harus memenuhi permintaan putra ibn Ubayy. Ketika dia berdiri untuk berdoa bagi almarhum ibn Ubayy, Omar ingat Muhammad tidak mau berdoa di kuburan ibunya sendiri. Dia memegang baju Muhammad dan berkata: “Rasul Allâh, akankah kau berdoa bagi orang ini, sedangkan Allâh melarangmu berdoa bagi yang tidak beriman?” Dia menjawab: “Allâh telah memberikan pilihan sewaktu dia berkata: Mintalah ampun bagi mereka, atau jangan mintakan ampun bagi mereka; jika kau minta ampun bagi mereka sebanyak tujuh puluh kali, maka tuhan tidak akan mengampuni mereka (Q.9:80) dan aku akan memberi tambahan pada tujuh puluh kali minta ampun.” Sungguh ironis bahwa Muhammad memanggil ibn Ubayy “munafik” padahal julukan itu paling cocok bagi dirinya sendiri.

Sama seperti Jim Jones, Muhammad juga menciptakan suasana teror sehingga yang meragukan dirinya tidak berani menyatakan pikirannya. Dia melarang pertanyaan2 yang susah dan jadi sangat marah jikalau ada yang melakukannya.

Hadis berikut adalah contoh di mana Muhammad marah pada mereka yang berani mempertanyakan keputusannya. Hal ini terjadi ketika dia membagi-bagi semua jarahan yang dirampas di Perang Hunain kepada para pemimpin Mekah untuk “melunakkan hati mereka” dan “membuat Islam terasa manis di mulut2 mereka.” Pengikutnya yang membantunya berperang tidak kebagian jatah apapun. Seorang berkata: “Wahai Rasul Allâh! Bersikaplah adil.” Sang Nabi berkata, “Awas kamu! Siapa yang bisa berlaku adil jika aku tidak? Aku akan celaka jika aku tidak berbuat adil.” Omar berkata, “Wahai Rasul Allâh! Ijinkan aku memancung kepalanya.” [255]
[255] Sahih Bukhari Volume 4, Book 56, Number 807

Orang yang bertanya ini berasal dari suku Banu Tamim. Masyarakat Banu Tamim belum jadi Muslim. Mereka bergabung bersama Muhammad karena mengharapkan harta jarahan belaka. Tapi setelah Muhammad menang perang, dia tidak merasa perlu lagi memenuhi janjinya. Orang dari suku Tamim ini tidak kenal Muhammad dan perangainya. Pengalaman ini jelas membuka matanya dan orang2 lain di sekitarnya. Pelajaran yang diambil adalah tidak seorang pun yang boleh mempertanyakan keputusan Muhammad meskipun tidak adil sekalipun. Siapapun yang mempertanyakannya akan mendapat murka Muhammad dan dapat terancam dibunuh. Hanya yang membebek saja yang selamat. Dalam suasana seperti ini, kebenaran selalu dikorbankan. Apakah kaum politikus kiri jaman modern yang mendukung Muslim menghabisi nilai2 Yudeo-Kristen di dunia Barat dapat mengambil pelajaran? Tentunya dapat, tapi apakah pelajaran ini mendukung mereka?

Osherow melanjutkan: “Keadaan Kenisah Rakyat jadi sedemikian menekan, isi khotbah Jim Jones dan perilakunya sangat bertentangan, sehingga tidak mungkin jemaatnya tidak bisa melihat hal ini dan mempertanyakan gerejanya. Tapi keraguan ini ditekan. Tiada yang mendukung ketidaktaatan terhadap perintah2 sang pemimpin dan tiada kawan yang menyatakan ketidaksetujuan dengan mayoritas jemaat. Yang tidak taat dan menentang dengan cepat dihukum. Mempertanyakan kata2 Jones atau bahkan keluarga dan teman2nya saja sudah berbahaya. Orang yang menyadap pembicaraan dengan cepat melaporkan segala pertentangan, dan bahkan anggota2 keluarga sendiri pun melakukan hal ini.”

Sama seperti Jones, Muhammad bergantung kepada para penyadap, seperti yang dikatakan Osherow: “Ini tidak hanya menghilangkan sikap menentang, tapi juga menghilangkan sikap solidaritas dan kesetiaan orang terhadap sanak keluarga dan kawan2 mereka sendiri.”

Dalam Islam, para Muslim diminta untuk mengawasi dan memperingatkan satu sama lain jika ada yang keluar dari “jalur yang benar”. Hal ini disebut Amr bil ma’roof (perintah akan kebenaran) dan Nahi min al munkar (pelarangan akan kesalahan). Akan tetapi, yang benar dan yang salah bukanlah hal yang sama yang diakui orang pada umumnya dan yang sesuai dengan Hukum Emas (perlakukan orang lain seperti dirimu sendiri ingin diperlakukan). Yang benar adalah yang diijinkan sang Nabi dan yang salah adalah yang dilarang sang Nabi. Dengan kata lain, setiap orang adalah “Abang Besar” dan pengamat orang lain dan harus menegur untuk membenarkan Muslim lain dan jika perlu melaporkan mereka ke ketua Muslim. Setelah terjadinya Revolusi Islam di Iran, anak2 diperintahkan untuk melaporkan segala kegiatan tidak Islam yang dilakukan orangtua mereka. Beberapa anak muda dilaporkan oleh ayah mereka sendiri kepada Pemerintah dan mereka lalu dihukum mati. Penyampai laporan lalu dipuji-puji dan ditinggikan agar yang lain mau berbuat sama.

Osherwo berkata: “Jones berkhotbah bahwa semangat kekeluargaan harus dibentuk dalam gerejanya, dan dia menekankan pengabdian masing2 anggota jemaat ditujukan bagi sang “Bapak” (dirinya sendiri).”

Dalam islam, Muslim juga harus bersikap seperti saudara terhadap Muslim lain, tapi pertama-tama mereka harus setia dulu pada Muhammad, atau, seperti yang dikatakannya berkali-kali, pada “Allâh dan rasulnya.” Di saat seorang Muslim murtad, Muslim lain yang bersikap sebagai saudaranya tidak ragu lagi untuk menyembelih tenggorokannya.

Kesamaan antara Muhammad dan Jim Jones benar2 nyata. Jangan2 yang satu meniru yang lain. Sudah jelas bahwa semua tindakan mereka merupakan pernyataan pikiran gila penderita narsisis. Semua kebijaksanaan politis totalitarian, dari Nazisme sampai fasisme, dari komunisme sampai Islam, adalah aliran sesat dan mengandung sifat yang sama seperti yang dijabarkan George Orwell dalam novelnya yang berjudul Nineteen Eighty Four (1984).

Menurut Osherow, ketaatan mutlak ini tampak jelas berkurang jika ada sejumlah kecil orang2 yang menolak taat. “Riset menunjukkkan,” tulisnya, “bahwa hadirnya orang2 yang menolak taat ternyata jauh mengurangi ketaatan kebanyakan orang dalam riset Milgram [248]. Secara sama Asch menunjukkan bahwa adanya satu orang yang menyatakan pendapat berbeda dari kebanyakan orang akan membuat orang2 pun jadi cenderung tidak mudah setuju, bahkan jikalau pendapat satu orang itu tidak benar.
[248] Milgram S. Hal2 yang melepaskan diri dari tekanan suatu kelompok. Journal of personality and Social Psychology, 1965, 1, 127-134.

Baik Muhammad dan Jim Jones sangat tidak suka pada orang2 yang menentang. Mereka menuntut kesetiaan utama dan mutlak sedemikian rupa sehingga keinginan untuk bertanya atau mengritik mereka merupakan hal yang tidak terpikirkan. Muhammad memaafkan mereka yang memeranginya jika mereka menerima Islam dan kekuasaannya. Hal ini dia lakukan pada saudara sepupunya yakni Abu Sofyan. Setelah Muhammad menaklukkan Mekah, dia bahkan lalu menunjuk Abu Sofyan untuk memerintah Mekah. Tapi Muhammad tidak mengampuni mereka yang menolak dan meninggalkannya. Banyak orang yang dibunuh atas perintahnya hanya gara2 alasan sepele seperti mereka tidak setuju dengannya atau menghinanya.

Inilah sebabnya mengapa dia sangat takut akan penentangan dan mengapa pengikut2nya tidak bersikap toleran pada yang menentang Islam. Hal ini juga alasan mengapa aku yakin bahwa jika suara2 murtadin didengar, maka Muslim lain pun akan jadi berani dan kritik terhadap Islam tidak akan terbendung lagi.

Jeanne Mills menjadi jemaat Kenisah Rakyat selama enam tahun dan punya kedudukan tinggi tapi lalu meninggalkan aliran itu. Dia menulis: “Ada hukum tak tertulis tapi dimengerti sepenuhnya di gereja (Kenisah Rakyat) yang sangat penting: Tidak ada seorang pun yang boleh mengritik sang Bapak, istrinya, dan anak2nya.” [250]
[250] Mills, J. Six years with God. New York: A & W Publishers, 1979.

Bukankah hal ini terjadi pula pada Muhammad, keluarganya dan sahabat2nya? Dr. Yunis Sheikh, yang adalah seorang profesor perguruan tinggi di Pakistan, menyatakan bahwa kedua orangtua Muhammad bukanlah Muslim. Hal ini masuk akal karena mereka mati ketika Muhammad masih anak2 dan dalam hadis dikatakan Muhammad mengira mereka masuk neraka. Tapi ternyata komentar Dr. Sheikh membuat mahasiswa2nya marah, dan menuduh dia menghina orangtua nabi junjungan mereka dan melaporkan hal ini kepada imam. Akibatnya Dr. Sheikh dituntut di pengadilan karena melakukan penghujatan dan menghukumnya dengan hukuman mati. Dia dibebaskan dari penjara setelah beberapa tahun karena banyak protes dari penjuru dunia.

Di bulan September, 2006, Mohammed Taha Mohammed Ahmed, yang adalah ketua editor surat kabar swasta Sudan bernama Al-Wifaq, diculik sekelompok Muslim sejati. Dia dihakimi dengan penuh hinaan sebelum akhirnya tenggorokannya disembelih sama seperti orang menyembelih unta, dan lalu tubuhnya dipotong-potong. Dia dituduh menghujat karena korannya menerbitkan artikel dari internet yang mempertanyakan orang tua Muhammad. Yang dilakukan Muhammad Taha yang malang ini hanyalah mengutip beberapa bagian buku dan menulis bantahannya. [251]
[251] http://www.news24.com/News24/Africa/New ... 54,00.html

Jika kau hidup di negara Islam, kau bisa dihukum mati karena berani mengritik Islam, Muhammad, dan sahabat2nya. Jika kau hidup di negara non-Muslim, kau bisa dibunuh meskipun kau sendiri bukan Muslim. Pembuat film dari Belanda yang bernama Theo Van Gogh terlambat menyadari hal ini ketika dia terguling jatuh di atas genangan darahnya setelah ditembak dan ditusuki oleh seorang Muslim. Dosa Van Gogh adalah membantu murtadin Ayan Hirshi Ali membuat film tentang wanita dalam Islam.

Di bulan Juli, 1991, Ettore Caprioli yang adalah penerjemah buku Satanic Verses (Ayat2 Setan oleh Salman Rushdie) ke dalam bahasa Italia, diserang dan terluka berat. Hitoshi Igarishi – profesor sastra dan pengamat budaya Islam yang menerjemahkan buku itu ke dalam bahasa Jepang – dibunuh di Tokyo. William Nygaard, penerjemah buku itu ke dalam bahasa Norwegia, juga ditusuk pisau.

Pesannya sudah jelas yakni melakukan teror sebanyaknya agar tiada seorang pun yang berani menentang Islam. Deborah Blakey adalah anggota senior Kenisah Rakyat yang akhirnya mampu melarikan diri. Dia bersaksi: “Semua sikap tidak setuju dengan perintah Jim Jones dianggap sebagai ‘pemberontakan’… Meskipun aku merasa sangat sedih dengan yang terjadi, aku takut berkata apapun karena aku tahu semua orang yang berbeda pendapat akan mendapat murka Jim Jones dan pengikutnya.” [252]
[252] Blakey, D. Affidavit: San Francisco. June 15, 1978.

Osherow menjelaskan: “Jika kau menodongkan pistol ke kepala seseorang, kau sanggup menyuruh orang itu berbuat apapun. Jemaat Kenisah Rakyat selalu hidup dalam ketakutan akan hukuman berat, pemukulan2 brutal, ditambah dengan hinaan di muka umum karena melakukan pelanggaran ringan atau tak sengaja. Jim Jones menggunakan ancaman hukuman berat untuk menegakkan disiplin dan ketaatan mutlak yang dituntutnya. Dia melakukan hal ini agar jemaatnya tidak berontak dan menolaknya.”

Muslim terus-menerus hidup dalam ancaman hukuman berat. Aku telah menerima ribuan e-mail dari Muslim2 yang marah dan semuanya punya pesan yang sama yakni aku akan masuk neraka karena berani mengritik Islam. Mereka tidak menantang pendapatku; mereka tidak mengecam logikaku, tapi hanya mengancamku dengan hal yang paling menakutkan bagi mereka – Neraka. Dengan membaca beberapa ayat Qur’an, dapat diketahui dari mana datangnya rasa takut ini. Para Muslim dibesarkan dengan ketakutan akan Neraka dan hukuman bagi yang berani mempertanyakan otoritas Muhammad sungguh menakutkan bagi mereka.

Rasa takut ini tidak terbatas pada ancaman rohani saja. Hukuman badani juga termasuk bagian dari Islam. Di madrasah2, anak2 dipukuli kalau melanggar hukum, dan di beberapa kejadian, bahkan dirantai. Pemukulan tidak hanya diterapkan kepada anak2 saja, tapi orang dewasa pun dipukuli, dipecuti di muka umum, dihina, dicaci, atau dirajam sampai mati karena melanggar hukum Islam.

Banyak hukum yang melarang segala bentuk pemberontakan dan kemandirian. Para pengritik, pemikir merdeka, pembaharu, dan murtadin harus dibunuh. Bahkan mempertanyakan ajaran Islam saja tidak diperbolehkan! Inilah satu2nya cara untuk mempertahankan kepalsuan Islam yang menuntut iman buta yang hanya dapat dibentuk melalui rasa takut dan kebodohan.

Osherow berkata: “Tapi orang yang berkuasa tidak perlu harus mengancam secara terang2an agar orang2 tunduk melakukan tuntutannya, dan hal ini dibuktikan melalui riset kejiwaan sosial. Berdasarkan percobaan2 Milgram [247], secara tak terduga, sejumlah besar orang taat pada perintah2 seseorang dan hal ini dengan kuat mempengaruhi orang lain untuk taat pula.”
[247] Milgram, S. Penelitian sikap taat. Journal of Abnormal and Social Psychology, 1963, 67, 371-378.

Osherow menulis: “Tapi di tahun 1978 ketika anggota2 keluarga jemaat Kenisah Rakyat khawatir dan meminta politikus negara Leo Ryan menyelidiki aliran kepercayaan itu, Ryan dan para wartawan yang ada bersamanya menyaksikan kebanyakan jemaat memuji tempat itu, menyatakan bersuka cita berada di tempat itu dan ingin tetap tinggal di situ. Akan tetapi, dua keluarga, berhasil menyelipkan pesan kepada Ryan bahwa mereka ingin meninggalkan aliran itu dan turut pergi bersamanya. Ketika kelompok Ryan dan dua keluarga yang membelot itu hendak naik pesawat2 terbang, mereka diserang mendadak dan ditembaki sampai lima orang, termasuk Ryan, meninggal. Setelah itu Jim Jones mengumpulkan jemaatnya dan memerintahkan mereka minum air beracun dan ‘mati dengan terhormat’."

Rekaman2 dari pita suara tentang kejadian akhir menunjukkan bahwa para jemaat, dengan beberapa perkecualian, secara sukarela minum racun dan meminumkannya pula kepada anak2 mereka. Khotbah dan janji2 yang diucapkan Jim Jones terdengar serupa bagi mereka yang mengetahui isi Qur’an. Seorang wanita protes tapi jemaat2 menyuruhnya diam dan setiap orang menyatakan kesiapan mereka untuk mati.

Tulisan berikut berasal dari rekaman pita suara. Isinya mengejutkan, tapi menjelaskan inti fanatisme.

Jim Jones: Aku telah mencoba yang terbaik untuk memberimu kehidupan yang layak. Tapi meskipun aku telah mencoba, beberapa orang dengan kebohongan mereka, membuat hidup kita jadi mustahil. Jika kita tidak bisa hidup dalam damai maka lebih baik mati dalam damai. (Tepuk tangan)…. Kita telah dikhianati… Yang akan terjadi di sini dalam waktu beberapa menit lagi adalah salah seorang di pesawat terbang itu akan menembok pilot pesawat – aku tahu itu. Aku tidak merencakan hal itu, tapi aku tahu hal itu akan terjadi… Jadi pendapatku adalah yang biasa dilakukan di Yunani kuno, dan menjauh diam2, karena kita tidak bunuh diri – tapi melakukan tindakan revolusioner… Kita tidak bisa kembali.
Wanita Pertama: Aku merasa ada kehidupan, ada harapan.
Jones: Well, semua orang akhirnya harus mati.
Para Jemaat: Betul, betul!
Jones: Apa yang dilakukan orang2 itu, dan apa yang mereka alami akan membuat hidup kita lebih jelek daripada hidup di neraka… Tapi bagiku, kematian bukanlah hal yang menakutkan. Malah hidup ini sebenarnya yang dikutuk. Tidak layak untuk hidup seperti ini.
Wanita Pertama: Tapi aku takut mati.
Jones: Kuyakin kau tidak takut. Kuyakin kau tidak takut.
Wanita Pertama: Kupikir terlalu sedikit yang meninggalkan sehingga 1.200 orang harus menyerahkan nyawa mereka bagi yang pergi… Aku lihat semua bayi2 ini dan kupikir mereka layak untuk hidup.
Jones: Tapi bukankah mereka layak untuk mendapat lebih dari itu? Mereka layak mendapat kedamaian. Kesaksian terbaik yang bisa kita berikan adalah dengan meninggalkan dunia sialan ini. (Tepuk tangan)
Pria Pertama: Sudahlah, mbak... Kita buat hari ini indah. (Applause)
Pria Kedua: Jika kau mengatakan bahwa kami harus mengorbankan nyawa, maka kami siap. (Tepuk tangan)

[Baltimore Sun, 1979]

Terdengar tangisan2 bayi, dan rekaman suara terus berlanjut, dengan Jones memaksa perlunya bunuh diri dan mendorong orang2 untuk melakukan hal ini sepenuhnya:

Jones: Bawa lagi obat2. Sederhana saja! Gampang. Tidak ada akibat kejang2… Jangan takut mati. Kau lihat orang2 di luar sana. Mereka akan menyiksa kita semua…
Wanita Kedua: Tidak perlu khawatir. Semuanya tetap tenang dan mari kita mencoba menenangkan anak2 kita… Mereka tidak menangis kesakitan; tapi hanya merasa pahit saja…
Wanita Ketiga: Tidak ada alasan untuk menangis. Ini adalah hal yang patut kita syukuri. (Tepuk tangan).
Jones: Ayolah, demi Tuhan, selesaikan semua ini... Ini adalah bunuh diri revolusioner. Ini bukan bunuh diri yang merugikan diri. (Suara memuji dan memanggil, "Dad." (Tepuk tangan)
Pria Ketiga: Ayah telah membawa kita sejauh ini. Aku bersedia pergi bersama Ayah...
Jones: Kita harus mati dengan terhormat. Cepat, cepat, cepat! Kita harus cepat... Hentikan semua histeris ini. Mati itu sejuta kali lebih baik daripada hidup beberapa hari lagi… Jika kau tahu apa yang ada di hadapanmu nanti, maka kau akan bersyukur malam ini.
Wanita Keempat: Sungguh senang menjalani perjuangan revolusi ini bersama kalian semua… Ini lebih baik daripada menyerahkan hidupku bagi sosialisme, komunisme dan aku sangat berterima kasih pada Ayah.
Jones: Ambilah nyawa kami... Kami tidak bunuh diri. Kami melakukan bunuh diri revolusioner sebagai tindakan protes terhadap keadaan2 dunia yang tak manusiawi.
[246]
[246] Newsweek, 1978, 1979

Dunia kaget ketika mendengarkan isi rekaman pita suara ini. Tapi pengabdian absolut dan ketaatan membuta, ciri2 aliran sesat, semuanya ada pada Islam. Islam sendiri berarti ketundukan. Muslim harus mengenyahkan kemauan mereka dan menolak apapun, termasuk keluarga mereka sendiri dan hidup mereka untuk membuktikan ketaatan kepada Allâh dan rasulnya. Dalam Qur’an kita baca:
“… maka inginkanlah kematianmu, jika kau memang benar.” (Q.2:94) Di bagian lain Muhammad menantang kaum Yahudi untuk meminta kematian untuk membuktikan bahwa mereka jujur.

Katakanlah: "Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar". (Q. 62:6)

Sudah jelas bahwa berdasarkan pikiran tak waras orang2 narsisis seperti Jim Jones dan Muhammad, ujian ketaatan mutlak adalah meminta jemaatnya untuk mati. Acara2 TV Palestina seringkali menayangkan ibu2 dari pembom bunuh diri yang dengan bangga berkata tentang pengorbanan anak2 mereka dan berharap anak2 mereka yang lain melakukan hal yang sama.

Bagi pengikutnya, Jim Jones adalah pemimpin tercinta. Mereka memanggilnya dengan kata sayang “Bapak” atau “Dad” (bahasa Inggris yang berarti panggilan akrab anak pada ayah). Dengan berjalannya waktu, dia pelan2 beralih peran jadi sang Juru Selamat. Tatkala pengaruhnya semakin besar, dia pun menuntut lebih banyak ketaatan dan kesetiaan. Pengikutnya dengan penuh semangat memenuhi tuntutan ini. Dia meyakinkan mereka bahwa dunia akan hancur karena perang nuklir dan jika mereka mengikutinya, maka hanya MEREKA saja yang bisa selamat.

Osherow menulis: “Banyak isi pesannya yang menyerang rasisme dan kapitalisme, tapi kemarahannya yang paling utama tertuju pada ‘musuh2’ aliran Kenisah Rakyat yakni orang2 yang menolaknya dan terutama yang meninggalkannya.”

Gambaran di atas persis sama dengan Islam. Awalnya, Muhammad hanyalah “pemberi peringatan,” dan memanggil orang untuk percaya Tuhan dan takut akan Hari Kiamat. Begitu pengaruhnya semakin membesar dan jumlah pengikutnya bertambah, dia jadi lebih banyak menuntut, meminta mereka meninggalkan rumah2 mereka, hijrah dari tempat asal, dan mengancam mereka dengan kutukan illahi jika tidak taat padanya.

Banyak pesan Muhammad yang menyerang paganisme (shirk), tapi kemarahannya yang paling utama tertuju pada ‘musuh’ Islam yakni orang2 yang menolaknya dan terutama yang meninggalkannya. Jim Jones membawa jemaatnya ke hutan di Guyana dan memisahkan mereka dari keluarga2 mereka. Mereka terputus dari pengaruh dan dunia luar dan di bawah pengaruh Jones sepenuhnya sehingga dia bisa dengan mudah mencuci otak dan mengindoktrinasi mereka. Inilah alasan sebenarnya mengapa Muhammad meminta pengikutnya hijrah ke Medina. Dia mengadu domba pengikutnya yang setia melawan pengikutnya yang tidak mau ikut hijrah. Ayat di bawah menjelaskan sikapnya:

Dan mereka yang percaya tapi tidak mau meninggalkan rumahnya, kalian tidak punya tugas untuk melindungi mereka sampai mereka meninggalkan rumahnya; tapi jika mereka minta tolong padamu karena alasan agama maka itulah tugasmu untuk menolong (mereka) kecuali terhadap orang2 yang diantara mereka dan kalian terdapat suatu perjanjian. Allah mengetahui apa yang kalian lakukan. (Q.8:72)

Ayat ini mengatakan para Muslim tidak boleh melindungi Muslim lain yang tidak mau hijrah. Dengan kata lain, Muslim taat harus membunuh Muslim yang tidak mau hijrah, sampai mereka mau hijrah dan taat. Bagian akhir ayat 8:72 terutama menjelaskan hal itu. Dia mengancam pengikutnya bahwa Allâh mengamati mereka dan tahu, tidak hanya apa yang mereka perbuat, tapi juga pikiran2 mereka.

Allâh-nya Muhammad sagat mirip dengan tokoh diktator Ocenia bernama “Big Brother” (Abang Besar) di buku karangan George Orwell yang berjudul Nineteen Eighty-Four (1984). Dalam kisah ini, setiap orang dalam masyarakat diamat-amati dengan seksama oleh Pemerintah melalui kamera2 TV. Orang2 diperingatkan terus-menerus akan kalimat “Abang Besar mengamatimu,” dan ini adalah “inti” sistem propaganda di negara itu. Di buku ini, tidak dijelaskan apakah Abang Besar itu benar2 nyata ada atau hanya karangan Pemerintah saja. Akan tetapi, karena tokoh utama Partai Pemerintah bernama O’Brien mengatakan bahwa Abang Besar tidak akan pernah mati, hal ini menjelaskan bahwa Abang Besar merupakan wujud Partai itu sendiri. Tiada seorang pun yang pernah melihatnya. Mukanya terpampang di papan2 pengumuman, suaranya terdengar di layar TV… Abang Besar adalah adalah tokoh samaran yang diciptakan Partai Pemerintah untuk mewakili mereka di muka dunia. Fungsi si Abang adalah untuk menciptakan kesatuan perasaan cinta, takut, dan hubungan. Orang lebih mudah merasakan emosi2 seperti itu pada sosok manusia daripada pada sebuah Partai Pemerintah. “Warga negara Oceania yang setia tidak takut pada Abang Besar, tapi cinta dan menghormatinya. Mereka merasa Abang melindungi mereka dari kejahatan di luar sana.” [245]
[245] Wikipedia.com

Abang Besar sama halnya dengan Allâh, yang tidak tampak, tapi selalu ada. Dia dicintai dan sekaligus ditakuti Muslim dan Allâh mengamati setiap tingkah laku dan pikiran2 Muslim.

Satu cara untuk mengerti Isalam dan sifat fanatik para pengikutnya adalah dengan cara membandingkannya dengan aliran kepercayaan sesat lainnya. Islam dianut oleh kurang lebih 1.2 milyard Muslim. Jika kau sendiri adalah Muslim, kau tentunya telah bertemu dengan orang2 Muslim dan tidak melihat apapun yang salah dalam diri mereka. Para Muslim bisa tampak seperti kebanyakan orang lain yang bekerja dan membesarkan anak2 mereka. Mereka bisa jadi adalah para karyawan, kolega, pemimpin, tetangga, dan warga negara yang baik. Mereka ramah, tidak lebih baik atau buruk dibandingkan orang lain pada umumnya. Mungkin tiada yang tampak aneh pada diri mereka yang membuat orang lain menduga mereka anggota dari aliran sesat. Akan tetapi, jangan biarkan penampilan mereka mengelabuimu. Islam adalah aliran sesat dan Muhammad bermental sesat.

Berdasarkan kamus, penjabaran kata fanatisme adalah antusiasme (kesenangan) yang berlebihan, pengabdian yang tak masuk akal, pemikiran yang liar dan muluk terhadap sesuatu hal, terutama agama. Orang tidak memeluk agama untuk jadi pembunuh dan teroris. Ini malah sebaliknya dari tujuan orang beragama. Lalu apakah yang membuat seseorang jadi begitu fanatik sehingga mengindahkan nalar, dan melakukan perbuatan barbar, pembunuhan dan bahkan siap mengorbankan nyawa demi dan bagi agama? Apakah pengabdian umat beragama ini menunjukkan kebenaran tujuan pengorbanan tersebut?

Mari kita amati aliran kepercayaan Kenisah Rakyat (People’s Temple) dan membandingkannya dengan Islam. Semua aliran sesat punya sifat2 dasar yang serupa. Kita bandingkan islam dengan aliran sesat manapun dan hasilnya akan sama. Neal Osherow telah mempelajari Kenisah Rakyat dan di tulisannya yang berjudul Sebuah Pengamatan Jonestown: Memahami Hal yang Tak Masuk Akal (An Analysis of Jonestown: Making Sense of the Nonsensical), dia menjelaskan seluk-beluk aliran2 sesat dengan jelas.

Anggota Kenisah Rakyat diajak oleh pemimpin mereka, yakni Jim Jones, untuk meminumkan minuman yang dicampur racun kepada anak2 mereka, bayi mereka dan akhirnya diri mereka sendiri. Mayat2 ditemukan berpelukan satu sama lain, berpegangan tangan; yang mati lebih dari 900 orang.
Image
Jim Jones dan pengikutnya.

Bagaimana mungkin tragedi ini bisa terjadi? Jawabannya adalah kegilaan seseorang dan sikap gampang percaya orang banyak. Di bab ini aku akan menjabarkan pengamatan Osherow tentang Kenisah Rakyat dan membandingkannya satu per satu dengan Islam untuk melihat kesamaannya dan untuk lebih mengerti tentang Islam.

Selama Muslim masih percaya Muhammad adalah nabi, apapun yang diperbuatnya akan tampak benar di mata mereka. Di bagian akhir bab akan dijelaskan bahwa Muslim yang telah dicuci-otaknya sukar untuk bisa sembuh. Akan tetapi bagi Muslim yang daya pikir logisnya belum rusak sama sekali dan dapat dikejutkan untuk melihat kenyataan, maka keterangan ini dapat mendorong untuk mempertanyakan iman Islam mereka.

Jim Jones mulai berkhotbah di negara bagian AS Indiana di tahun 1965, dua puluh tahun sebelum terjadinya bunuh diri masal. Dia saat itu punya beberapa pengikut. Dia menekankan pentingnya kesamaan kedudukan antar ras dan pembauran. Kelompoknya menolong kaum miskin dan mencarikan mereka pekerjaan. Dia berkharisma dan berpengaruh. Tak lama kemudian pengikutnya bertambah banyak; kumpulan jemaat baru dibentuk dan pusat alirannya didirikan di San Francisco.

Pertanyaan yang mengganggu para muslim adalah kenapa, jika Muhammad begitu jahat, para sahabatnya begitu memuji dia? Kenapa tak seorangpun yang menghina dia, bahkan setelah dia meninggal?
Jawabannya adalah bahwa dalam sebuah masyarakat yang didasari oleh sebuah cult pribadi, mengucapkan apa yang ada dalam pikiran2mu tidak selalu aman. Berkata benar akan menyebabkan kamu dikucilkan atau yg lebih buruk lagi, kehilangan nyawa. Kebanyakan orang punya mentalitas utk ikut2an dan ikut arus begitu saja. Mereka yang berpikiran beda cukup sadar utk tutup mulut dan membuat kepala mereka aman2 saja dipundaknya.

Abdullah Ibn Abi Sarh, yang menjadi salah seorang sekretaris Muhammad (yg menulis Qur’an sementara didiktekan Muhammad), harus kabur dari Medina dan hanya dikota Mekah saja (yg ketika itu masih aman) dia berani berkata bahwa tidak ada wahyu2 itu, Muhammad mengarang-ngarang Qur’an saja. Tapi, ketika Muhammad menaklukkan Mekah, langsung dia cari Abi Sarh dan memerintahkan untuk mengeksekusinya, meski sebelumnya dia berjanji utk tidak membunuh seorangpun jika kota itu mau menyerah tanpa perlawanan. Nyawa Abi Sarh diselamatkan, karena pertolongan dari Usman yang kebetulan menjadi saudara angkatnya.

Ketika kritik2 dibungkam, para penjilat mencoba mengangkat harkat mereka dengan memuliakan sang pemimpin lewat puji2an berlebihan dan kelewatan. Saddam dibenci oleh kebanyakan rakyat Irak, tapi yang anda dengar tentang dia di Irak, ketika dia masih berkuasa, hanyalah puji2an baginya. Orang2 Narsisis begitu terputus dari kenyataan hingga mereka percaya pujian2 itu, dengan kata lain menjadi korban dari tipuannya sendiri. Karena Muhammad dipercaya sebagai nabi, pemerintahan terornya tidak berakhir dengan kematiannya. Mereka yang sungguh2 percaya (jatuh) pada kebohongannya melanjutkan terror itu dan membungkam suara2 lawan seperti yang terjadi juga saat ini. Setelah mereka yang pernah kenal dekat dengan Muhammad meninggal, generasi berikutnya tidak punya jalan lagi, tidak bisa tahu lagi mana yang benar dan percaya saja akan apa yang semua orang percayai dan kebohongan itu diturunkan dari generasi ke generasi. Setelah kematian Muhammad, para penjilat terus menerus memuji2 dia, memuliakan dia, bahkan menceritakan mukjijat2 yang katanya dilakukan oleh dia, mereka pikir ini akan meningkatkan martabat mereka dan membuat mereka sekaligus Muhammad kelihatan saleh. Banyak sekali mukjijat2 yang katanya dilakukan Muhammad meski dia sendiri mengakui dalam Qur’an bahwa dia tidak bisa melakukan mukjijat apapun. [236]
[236] Para kafir berulangkali meminta Muhammad membuat muzizat agar mereka bisa percaya (Quran 17: 90) dan Muhammad terus-menerus mengatakan pada mereka "Terpujilah Allah! Aku hanyalah seorang manusia, seorang rasul" (Qur’an 17: 93)

Seribu Empat Ratus Tahun kemudian, jutaan muslim bertingkah laku serupa dengan yang dilakukan ketika jamannya Muhammad di Medina. Mereka yang melawan takut untuk bicara, dan jika mereka beranipun, dibungkam dengan cepat, sementara para penjilat dihormati karena mau memuliakan sang nabi dan menceritakan ‘kebaikan2’nya. Bagaimana kebenaran bisa menang dalam atmosfir yang demikian represif, yg begitu penuh dengan kemunafikan dan penjilatan?

Ada kisah2 tentang Muhammad yg memerintahkan pembunuhan para pengkritiknya dan cerita tentang Omar, tangan kanan Muhammad, yang selalu siap menarik pedang mengancam utk menggorok siapa saja yang berani mempertanyakan otoritas tuannya. Muhammad mendorong sifat penjilat dan menghukum kebebasan berpikir dan kritik2.

Orang2 terjebak dalam atmosfir yang menyesakkan dada, dan pada akhirnya kepercayaan akan kualitas super dari pemimpin dan kepercayaan tsb menjadi asli dan nyata didalam diri dan pikiran mereka.

Baru-baru ini, sebuah team ahli bedah mata pergi ke Korea Utara utk menolong orang2 yang sakit katarak. Ribuan orang muda dan tua berbaris dan setelah mendapat pengobatan yang membantu penglihatan mereka, para dokter itu tertegun melihat bahwa hal pertama yang pingin mereka lihat adalah potret besar dari diktator Kim Jung Il, yang digantung didinding, mereka bersujud dan berterima kasih pada foto itu – bukan pada dokter yang menolong mereka, tapi pada sang tiran yang membuat mereka tetap buta selama bertahun2 ini.

Misi muhammad bisa berjalan baik dan sukses sebagian besar karena dia muncul disaat dan tempat yang tepat, dimana dia berada diantara masyarakat yang tidak tahu (ignorant), percaya takhyul, dan kebanyakan chauvinist (sikap bangga terhadap bangsanya secara berlebih-lebihan). Ini semua adalah kualitas2 yang dia perlukan utk mendukung agama rampoknya, kualitas2 itu semua sudah ada disana, diantara orang2 yang kemudian menjadi pengikut2 awalnya. Chauvinisme, kefanatikan, kesombongan, arogansi, megalomania, kebodohan, sikap bangga berlebihan, kerakusan, birahi, meremehkan hidup dan karakter2 tercela lainnya yang menjadi tanda resmi dari Islam sudah ada terlebih dahulu sebagai materia prima (materi utama) di Arab, dimana dia meluncurkan kegiatan kenabiannya. Atribut2 dan kualitas2 ini belakangan dipaksakan pada bangsa2 lain yang menjadi korban islam. Mereka yang sebelumnya sudah punya dasar atribut2 ini, merasa menemukan landasannya dalam islam utk melesat lepas landas dan menjadikannya pengabsahan “ilahi” bagi kegemaran kriminal dan menyimpang.

Selain keyakinannya besar, pembohong psikopat siap memakai kekerasan utk membela kebohongannya. Menggunakan kekerasan utk mendukung sebuah pengakuan adalah sebuah fallacy (buah pikiran yang keliru) logika yang sering sukses ini diterapkan oleh para diktator. Fallacy ini dinamakan Argumentum ad baculum. Ini terjadi ketika seseorang memakai kekerasan atau ancaman kekerasan, utk memaksa orang lain menerima pendapat/kesimpulannya.

Argumentum ad baculum dapat diterangkan sebagai “yang kuat itu yang benar.” Ancaman ini bisa langsung seperti:

· maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka. (Q. 9:5)
· ku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Q. 8:12)

Atau yang tidak langsung seperti:

· Adapun orang-orang yang kafir dan menolak pertanda2 Kami, mereka itu adalah penghuni neraka (Q.5:10)
· Ia (kafir) mendapat kehinaan di dunia dan di hari kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka yang membakar. (Q. 22:9)
· Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada tanda-tanda Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q. 4:56)

Ancaman2 membuat sebuah Bohong Besar rasa pengertian urgensi yang dramatis. Pengaruhnya begitu kuat hingga orang2 tidak bisa utk tidak mengacuhkannya. “Bagaimana bisa orang begitu yakin bahwa Tuhan akan menghukum mereka yang tidak percaya padanya?” atau “Bagaimana bisa orang membunuh begitu banyak hanya karena mereka tidak percaya padanya?” Kau bertanya2 dan menjadi cenderung utk percaya dibanding jika ancaman demikian tidak ada. Argumentum ad baculum berhasil. Kekerasan yg ekstrim bisa membuat orang yakin secara ekstrim pula. Orang2 Korea Utara benar-benar memuja pemimpin gila mereka, Kim Jung Il. Keyakinan ini sampai pada mereka lewat kekerasan ekstrim yg digunakan sang diktator dan tidak adanya toleransi bagi orang yang menentang. Ketika nyawamu bergantung pada percaya atau tidak, kau akan mau percaya pada apapun yg disodorkan.

Ketika pengikut Shoko Asahara diperintahkan untuk melepas gas sarin distasiun bawah tanah Tokyo dan membunuh banyak orang tak bersalah, mereka tidak mempertanyakan perintah mengerikan ini. Mereka menutup hati nurani mereka dan menerimanya sebagai pertanda kebijakan yang lebih besar dari guru mereka. Mereka dihadapkan dengan dua pilihan. Terima bahwa dia memang gila, berarti anda telah dibodohi dan mengakui semua pengorbanan anda selama ini sia-sia belaka, atau, yakinkan diri anda sendiri bahwa orang ini mengetahui hal2 yang besar yang tidak bisa anda mengerti kedalamannya dan dg demikian tidak sepatutnya mempertanyakan hal ini. Orang2 ini telah menyerahkan segalanya utk bisa bersama dengan Asahara. Mereka telah memutuskan semua jembatan2 yang menghubungkan mereka dengan kehidupan sebelumnya. Mereka tidak punya apa2 lagi utk mundur dan tidak tahu harus kemana jika memutuskan pergi meninggalkannya. Karena mempertanyakan Asahara atau melawannya tidak akan dibiarkan, mereka tidak punya pilihan lain kecuali percaya apapun yang dia katakan. Mereka mengabaikan semua keraguan dan memaksa mereka utk beriman padanya.

Dr. Ikuo Hayashi adalah dokter terkenal yang menjadi pengikut fanatik Asahara. Dia satu dari lima orang yg diperintahkan utk menanam gas sarin beracun distasiun bawah tanah Tokyo. Hayashi adalah dokter terlatih dan telah bersumpah utk menolong jiwa orang. Pada satu saat, sebelum dia melubangi kotak yang berisi cairan maut itu, dia melirik wanita yg duduk didepannya dan sejenak ragu. Dia sadar, apa yang akan dia lakukan akan membunuh wanita itu. Tapi segera dia tutup hati nuraninya dan meyakinkan diri bahwa Asahara lebih tahu, dan tidak benar mempertanyakan kebijaksanaan sang Master.

Omeir adalah seorang anak lelaki umur 16 tahun yang menemani Muhammad dalam salah satu pertempurannya. Muhammad bicara tentang mati syahid dengan penuh pujian yg hebat2 hingga anak ini terpengaruh. Dia buang kurma2 yg sedang dia makan, dan berkata “Apa ini yang menahanku utk masuk surga? Sesungguhnya, aku tidak akan mencicipi lagi makanan ini, sampai aku bertemu Allahku!” setelah berkata demikian, dia tarik pedangnya dan berlari kegaris depan, kearah pasukan musuh, segera dia mendapatkan kematian yang sangat dia dambakan itu.

Sekali saja anda menjadi seorang yg percaya, anda akan mengabaikan pikiran bahwa nabi tercinta anda mungkin bohong. Psikopat tidak punya hati nurani. Mereka bisa bohong dan mampu membunuh jutaan orang tanpa sedikitpun penyesalan. Mereka merasa berhak utk melakukan itu. Hitler yakin dia melakukan pekerjaan Tuhan. Salah satu pernyataannya menjelaskan ini. Dia tulis:

Sejak saat ini aku percaya bahwa aku bertindak sesuai dengan kehendak Pencipta Maha kuasa: dengan membela diri terhadap orang yahudi, aku berjuang utk pekerjaan tuhan. [234]
[234] Adolf Hitler, Mein Kampf, Ralph Mannheim, ed., New York: Mariner Books, 1999, hal. 65.

Ayatollah Montazeri, orang yang harusnya menggantikan Khomeini, sampai dia dipermalukan karena berselisih dengan khomeini, dalam memoirnya menulis ketika Khomeini memerintahkan pembantaian lebih dari 3.000 orang yang melawannya, dia menolak. Khomeini bilang dia yang bertanggung jawab pada tuhan utk itu dan sebaiknya Montazeri jangan ikut campur. Psikopat Narsisis sangat sangat yakin akan tindakan2 jahat mereka dan merekalah yang pertama percaya kebohongan mereka sendiri.

Hitler menarik dukungan banyak orang jerman hanya dengan membuat mereka merasa nyaman dengan bohong besarnya. Dia adalah pembicara yang memukau. Ketika dia bicara, intonasinya makin kencang dan kencang, saat dia muntahkan kemarahan pada musuh2 jerman, dia bangkitkan rasa patriotisme jerman. Kepercayaannya, bahwa semakin besar kebohongan semakin mudah utk dipercaya, terbukti benar. Jutaan orang jerman percaya kebohongannya. Mereka mencintainya dan terharu hingga menangis oleh pidato2nya.

Ibn Sa’d melaporkan sebuah hadits yang mengungkapkan kesamaan2 yg banyak antara Muhammad dan Hitler. Dia tulis, “Dalam khotbahnya, mata nabi berubah jadi merah seraya menaikkan volume suaranya dan berbicara dengan marah seakan dia saat itu panglima perang yang sedang memperingatkan pasukannya ‘Hari kebangkitan dan aku adalah seperti dua jari ini (ibu jari dan jari telunjuk). Dia akan berkata ‘Petunjuk terbaik adalah petunjuk Muhammad dan hal paling buruk adalah inovasi dan inovasi apapun akan menghasilkan kehancuran.” [235]
[235] Ibn Sa’d Tabaqat, hal. 362

Ditempat sama Ibn Sa’d berkata: “dalam khotbahnya, nabi suka memegang tongkat.” (mungkin utk melambangkan dominasinya!).

Seni memanipulasi orang lain dengan begitu sewenang-wenang bukanlah sebuah kemampuan yang bisa dipelajari dan bukan keahlian yang mudah dikuasai. “Cacat” terbesar kita adalah adanya hati nurani kita. Kemampuan demikian datang secara alami kepada psikopat narsisis yang tidak punya nurani. Narsisis seperti Hitler, Mao, Pol Pot, Stalin dan Muhammad tidak punya hati nurani.

Adolf Hitler, dalam Mein Kampf-nya, 1925, menulis: “Massa yang banyak dari sebuah bangsa akan lebih mudah jadi korban dari kebohongan yang besar daripada yang kecil”. Jika ada orang yang tahu mengenai kekuatan dari kebohongan besar, bahwa semakin besar sebuah kebohongan semakin kedengaran masuk akal, maka orang itu adalah Hitler. Pernyataan bagus lain adalah dari George Orwell, penulis Politik dan Bahasa Inggris. Dia menulis: “Bahasa Politik…. Didesain utk membuat kebohongan terdengar jujur dan pembunuhan kedengaran lebih terhormat dan memberi kesan padat pada sesuatu yang sebenarnya hanya angin belaka.” [232]
[232] Politics and the English Language 1946 http://www.resort.com/~prime8/Orwell/patee.html

Kenapa kebohongan besar begitu meyakinkan? Ini karena orang awam umumnya tidak berani berbohong gila-gilaan/besar. Dia takut tidak akan dipercaya dan diejek. Karena tiap orang pernah mendengar atau mengatakan bohong ‘putih’, maka kebanyakan orang akan menyadari kebohongan itu jika mendengarnya. Kebohongan besar begitu gila-gilaan hingga sering mengagetkan pendengarnya. Kebanyakan orang tidak siap memprosesnya dengan benar. Ketika sebuah kebohongan begitu kolosal, orang awam jadi bertanya-tanya kok bisa orang punya keberanian dan kenekatan mengatakan hal demikian. Mereka disisakan dengan dua keputusan sulit yang ektrim, yaitu: orang yang bilang ini pastilah gila, tukang tipu, atau… dia mesti bicara benar. Sekarang, bagaimana jika dalam bidang apapun, anda menghormati orang ini, menghormati karismanya atau berkomitmen padanya, anda tidak akan mampu menolaknya dan tidak akan mampu menerima fakta bahwa mungkin dia benar2 gila, seorang yg sakit jiwa. Lalu anda paksa diri anda utk percaya apapun yang dia katakan meskipun jika hal itu tidak masuk akal.
Kebohongan yg besar membuat kacau pengukuran akal sehat kita. Ini sama saja dengan menimbang barang yang beratnya berton-ton dengan timbangan kiloan. Timbangan itu akan rusak dan berhenti menunjuk ukuran yang benar. Dengan begitu, Hitler benar. Kebohongan besar sering lebih bisa dipercaya daripada kebohongan yang biasa.

Ketika Muhammad menceritakan kisah kenaikan kesurga tujuh, Abu Bakr awalnya terperanjat. Dia tidak tahu musti gimana. Ini sangat gila. Dia cuma punya dua pilihan: mengakui bahwa teman paling dipercayanya, yang sangat dia hormati dan yang telah dia ikuti dengan pengorbanan yang besar, adalah orang gila, atau percaya kisah fantastisnya dan percaya apa saja yang mungkin akan dia katakan. Tidak ada jalan tengah baginya.

Ibn Ishaq berkata ketika Muhammad menceritakan perjalanannya, “banyak muslim meninggalkan kepercayaan islam mereka. Sebagian lagi menemui Abu Bakr dan berkata, “Apa pendapatmu tentang temanmu itu? Dia mengaku telah pergi ke Yerusalem semalam, sholat disana lalu kembali lagi ke Mekah!” Dia tuduh mereka berbohong, Muhammad tidak akan berkata begitu, tapi kata mereka dia sekarang lagi di mesjid, cerita pada orang2. Abu Bakr tertegun dan lalu berkata, “jika dia bilang begitu, maka itu benar. Kenapa heran? Dia pernah bilang berkomunikasi dengan Allah, dari langit kebumi, wahyu datang padanya siang atau malam, dan saya percaya dia. Itu jauh lebih luar biasa dari apa yang kau ceritakan sekarang!” [233]
[233] Sira Ibn Ishaq:P 183

Logikanya sangat sempurna. Pada dasarnya apa yang Abu Bakr katakan adalah bahwa sekali kamu telah melepaskan akal sehatmu dan percaya pada kemustahilan, kamu bisa percaya apa saja. Sekali saja kau biarkan dirimu dibodohi, maka kau harus siap utk dibodohi selamanya karena tidak ada batas bagi kebodohan. Berapa banyak orang yang akan membiarkan kakek umur 54 tahun meniduri anak perempuannya yang berumur 9 tahun? Abu Bakr melakukan itu. Ini membutuhkan kebodohan yang luar biasa. Kebodohan yang hanya mungkin ada dalam sebuah kepercayaan buta.

Kita harus juga ingat bahwa Abu Bakr, telah menghabiskan semua kekayaannya bagi Muhammad dan tujuannya. Orang ini telah bertaruh banyak. Pada tahap ini, dia tidak punya pilihan lain kecuali ikut saja pada apa yang dikatakan Muhammad. Mengaku telah ditipu, terlalu menyakitkan. Gimana menjelaskan ini pada istrinya? Apa yang akan dia katakan pada orang2 tua di Mekah yang pernah menertawainya dan bilang dia bodoh? Pintu utk kembali telah tertutup rapat bagi Abu Bakr. Dia harus melindungi harga dirinya dan itu berarti dia tidak bisa mengaku telah dibodohi. Yang bisa dia lakukan hanyalah menggali lebih dalam dan secara membuta mengikuti Muhammad kemana saja. Dia harus mematikan nuraninya dan percaya apa saja yang sang nabi sukai. Ketika kau taruh seluruh kepercayaanmu pada seseorang dan mengorbankan begitu banyak baginya, kau menyerahkan juga kemerdekaanmu dan menjadi boneka ditangannya. Inilah yang diinginkan pemimpin cult dari pengikutnya. Jenis pengabdian demikianlah yang memenuhi kepuasan rasa lapar sang narsisis.

Abu Bakr kesulitan mempercayai kisah naik surganya Muhammad, tapi pada akhirnya dia tidak punya pilihan kecuali percaya karena menolak berarti mengaku telah dibodohi dan itu pengakuan yang menyakitkan. Menolak orang itu, yang telah kau terima sebagai utusan Tuhan dan percaya padanya, bukanlah usaha yang mudah. Ini jelas sebuah keputusan yg gagah berani, keputusan yang ada jauh diluar jangkauan orang percaya yang berpikiran lemah. Semakin banyak kau menyerahkan kemerdekaanmu, semakin banyak kau berkorban bagi orang ini, semakin sulit utk meninggalkannya.

Hitler, Stalin dan banyak pemimpin lalim lainnya dalam sejarah yang juga gila. Tapi sedikit yang mencurigai kegilaan mereka. Mereka yang curiga tidak bisa mengatakannya pada orang lain. Kebijakan superior dari pemimpin lalim itu menjadi “jubah tak tampak sang kaisar”. Tiap orang mengaku melihat jubah itu dan memuji keindahannya. Mereka yang tidak melihat ‘jubah itu’, menjadi yakin akan keyakinan orang lain, menjadi yakin bahwa dirinyalah yang tidak bisa melihatnya, lalu berpura-pura juga bisa melihatnya. Dg demikian kebohongan besar terwujudkan dan kritik2 tidak akan ditoleransi.